Aceh Tamiang Terisolir, Air Sedada dan Logistik Menipis di Bukit Pengungsian

- Senin, 01 Desember 2025 | 12:36 WIB
Aceh Tamiang Terisolir, Air Sedada dan Logistik Menipis di Bukit Pengungsian

Banjir bandang masih menggenangi Aceh Tamiang. Sudah berhari-hari, air tak kunjung surut. Wilayah ini jadi salah satu yang paling menderita dan, sampai detik ini, masih terisolasi dari dunia luar.

Kondisi memilukan itu diungkapkan oleh Khairun Nasyrah, seorang warga Stabat, Sumatera Utara, yang lokasinya berbatasan langsung dengan kabupaten yang tengah dilanda bencana itu.

Seluruh keluarga besarnya masih terjebak di sana.

"Laporan kondisi terkini di Tamiang, saya mau infokan untuk pemerintah pusat bahwasanya di Tamiang itu daerah paling terisolir karena bantuan sama sekali tidak bisa masuk sekarang. Akses darat dari Medan dan Banda Aceh itu putus total,"

Katanya, Senin lalu. Menurut penuturannya, bantuan sempat sekali masuk lewat helikopter sekitar pekan lalu. Tapi itu saja jelas tak cukup. Faktanya, ketinggian air di sejumlah titik masih sangat mengkhawatirkan.

"Di Aceh Tamiang itu betul betul kekurangan logistik, kekurangan bantuan, per hari Sabtu dalam 4 hari mereka terendam banjir baru ada 1 helikopter masuk ke Tamiang. Dan dengan kondisi seperti itu saya rasa bantuan dengan 1 heli tidak mencukupi untuk kebutuhan orang 1 kabupaten,"

Ia menggambarkan situasi di tempat pengungsiannya.

"Kami di Tamiang, daerah Alur Manis, sekarang berada di pengungsian pabrik BSJ. Pabrik itu bukit paling tinggi yang benar benar aman untuk tempat pengungsian. Sampai hari ini ketinggian banjir itu masih sedada."

Nasyrah bercerita, kini mereka cuma bisa mengandalkan sisa-sisa logistik yang ada. Warga di pengungsian saling berbagi, saling menopang, sambil berharap bantuan segera tiba. Namun harapan itu terasa jauh.

"Jadi bener-bener kami kalau di atas bukit terisolir, kalau mau turun tidak ada akses bantuan seperti perahu karet atau apa pun untuk mencari logistik ke bawah,"
"Karena di Tamiang, jangankan lintas provinsi, lintas kampung itu putus. Untuk harapkan warga bantu warga pun juga mulai susah,"

Mirip Tsunami

Yang mengerikan, kerusakan yang ditimbulkan banjir ini disebut-sebut sangat parah. Bahkan, mirip dengan dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam.

"Kerusakan itu bener bener parah sekali, hampir sama kami kena tsunami. Bahkan ada laporan, bahwasanya Kampung Sukajadi yang sudah surut dari ratusan rumah tersisa 4 rumah. Sampai sekarang masih ada daerah belum surut,"

Di akhir percakapan, suaranya terdapat desakan yang mendesak.

"Saya mohon perhatian pemerintah pusat, pemerintah mana pun, pemerintah nasional. Mereka dalam kondisi kelaparan, mereka tak tahu mencari logistik di mana, dan ini sudah gawat darurat,"

Permohonan itu menggantung, sebuah seruan dari tengah keterputusan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar