Di Balik Ketegaran: Tangis Sunyi yang Tak Pernah Terdengar dari Seorang Ayah

- Senin, 01 Desember 2025 | 09:50 WIB
Di Balik Ketegaran: Tangis Sunyi yang Tak Pernah Terdengar dari Seorang Ayah

Ayah: Sandaran Bagi Semua Namun Tak Punya Bahu Untuk Bersandar

Alen Y. Sinaro

Seorang Ayah selalu diharapkan tampil gagah di depan keluarganya. Seolah-olah badai hidup tak pernah sedikitpun mengusik ketenangannya. Padahal, di balik sikap tegar itu, bisa jadi tersimpan ribuan luka yang tak pernah ia ungkapkan. Dia adalah sandaran bagi semua, tapi siapa yang jadi sandarannya? Ketika malam sunyi dan semua terlelap, Ayah-lah yang menelan air matanya sendiri. Semua itu agar esok hari, anak-anaknya masih bisa melihat dunia yang terasa aman dan indah.

Kita sering lupa. Ibu memang tampak tegar, penuh kasih dan kelembutan. Tapi dia tidak berdiri sendirian. Di sisi lain, Ayah biasanya adalah orang yang berjalan paling jauh, meski tak selalu terlihat. Cahaya Ibu memang menerangi rumah, tapi Ayah yang menjaga agar rumah itu tak gelap gulita. Tanpa napas Ayah yang tersengal di balik layar, ketegaran Ibu mungkin tak akan pernah utuh. Tulang punggungnya tak akan bisa tegak tanpa keringat Ayah yang mengalir deras. Dan dia tak pernah berkecil hati, meski dalam sebuah riwayat, eksistensi Ayah hanya disebut sekali, sementara Ibu tiga kali.

Tekanan hidup itu nyata. Kadang, ia menyeret seorang Ayah ke lorong-lorong gelap yang tak pernah ia impikan. Ada yang tergelincir. Mengambil yang bukan haknya, jadi koruptor, menipu, atau bahkan dalam kasus yang memilukan membongkar celengan masjid. Tujuannya seringkali sederhana sekaligus rumit: memastikan keluarganya tetap makan dan bisa bertahan hidup. Hasil jerih payahnya yang kelam dinikmati oleh semua orang di rumah. Tapi risikonya? Dia tanggung sendirian. Dipenjara, dihina, dipukuli, bahkan ada yang sampai dibakar hidup-hidup. Bagi mereka, anak dan keluarga tetaplah yang nomor satu, melebihi segalanya.

Dan ini yang lebih menyayat hati. Dalam “Kamus Breng-sex”, Ayah diartikan sebagai seseorang yang harus punya uang, tidak mau tahu dari mana asalnya. Nilainya kerap diukur dari angka di rekening, bukan dari air mata yang diam-diam ia keringkan. Tapi, betapa pun beratnya, Ayah tetap melangkah. Dia terus memikul langit agar tak runtuh menimpa kepala orang-orang yang dicintainya.

Child…
You don't know, you'd never known
How far they'd gone
If they must to see you live

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar