Ayah: Sandaran Bagi Semua Namun Tak Punya Bahu Untuk Bersandar
Alen Y. Sinaro
Seorang Ayah selalu diharapkan tampil gagah di depan keluarganya. Seolah-olah badai hidup tak pernah sedikitpun mengusik ketenangannya. Padahal, di balik sikap tegar itu, bisa jadi tersimpan ribuan luka yang tak pernah ia ungkapkan. Dia adalah sandaran bagi semua, tapi siapa yang jadi sandarannya? Ketika malam sunyi dan semua terlelap, Ayah-lah yang menelan air matanya sendiri. Semua itu agar esok hari, anak-anaknya masih bisa melihat dunia yang terasa aman dan indah.
Kita sering lupa. Ibu memang tampak tegar, penuh kasih dan kelembutan. Tapi dia tidak berdiri sendirian. Di sisi lain, Ayah biasanya adalah orang yang berjalan paling jauh, meski tak selalu terlihat. Cahaya Ibu memang menerangi rumah, tapi Ayah yang menjaga agar rumah itu tak gelap gulita. Tanpa napas Ayah yang tersengal di balik layar, ketegaran Ibu mungkin tak akan pernah utuh. Tulang punggungnya tak akan bisa tegak tanpa keringat Ayah yang mengalir deras. Dan dia tak pernah berkecil hati, meski dalam sebuah riwayat, eksistensi Ayah hanya disebut sekali, sementara Ibu tiga kali.
Artikel Terkait
Warga Kanada Tewas dalam Kerusuhan Iran, Ottawa Kecam dan Imbau Warganya Segera Tinggalkan Negeri
Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia