Puluhan Jembatan di Jabar Rawan Ambruk, Dedi Mulyadi Ungkap Penyebabnya
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara soal kondisi fasilitas umum di wilayahnya. Kali ini, sorotan tajamnya tertuju pada jembatan-jembatan yang kondisinya memprihatinkan.
Menurut laporan yang beredar, tak kurang dari 42 jembatan milik Pemprov Jabar dinilai butuh perbaikan segera. Kalau dibiarkan? Bisa-bisa roboh. Ancaman itu nyata dan mengkhawatirkan.
“Dari 1.381 jembatan provinsi, ada berapa jembatan yang harus diganti? Kalau tidak diganti akan roboh karena umur jembatan,” ujar Dedi, seperti dikutip dari sebuah media.
Ia menyebut, kebutuhan anggaran untuk merehabilitasi dan mengganti jembatan-jembatan kritis itu mencapai sekitar Rp 395 miliar. Angka itu berdasarkan kajian dari Bappeda setempat. Nah, untuk mendanainya, pemerintah provinsi masih mengkaji skema pembiayaan. Opsi yang mengemuka adalah memanfaatkan pinjaman daerah senilai Rp 2 triliun di tahun 2026 nanti.
Namun begitu, Dedi tak hanya bicara soal angka. Ia menyinggung akar masalahnya. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir ini hampir tidak ada pembangunan atau pemeliharaan jembatan yang signifikan. Hampir vakum.
“Selama lima tahun tidak ada pembangunan jembatan. Yang ada hanya pembangunan Jembatan Sodongkopo Jaya Perkasa di Pangandaran, itu pun sempat tertunda setahun dan baru dilanjutkan sekarang,” bebernya.
Karena itu, ia sudah meminta Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jabar untuk memverifikasi ulang kondisi semua jembatan. Ini soal keselamatan publik, jadi tidak bisa main-main. Rencana perbaikan 42 jembatan tadi rencananya akan dibahas lebih lanjut dengan DPRD Jabar.
Di sisi lain, respons datang dari Kepala BMPR Jabar, Agung Wahyudi. Ia memberikan data yang sedikit berbeda. Dari total 1.318 jembatan (angka ini berbeda dengan yang disebut Gubernur), sebanyak 1.123 unit diklaim dalam kondisi baik.
“Prinsip kami adalah jalan mantap untuk pelayanan publik yang mantap. Kami memastikan setiap ruas jalan provinsi memberi manfaat maksimal bagi masyarakat dan konektivitas antar wilayah,” jelas Agung.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas infrastruktur jalan dan jembatan tetap jadi prioritas utama.
Selain soal jembatan, Dedi juga menyampaikan kekecewaannya pada hal lain. Ia mempertanyakan proyek penggalian kabel optik yang justru merusak trotoar yang baru saja ditata rapi. Dengan nada kesal, ia menegur para pekerja di lapangan.
“Ini pekerjaan Pemprov kan (trotoar) baru selesai kita menata rapi daerah sini. Ini pekerjaan pake APBD nggak, bapak bisa membersihkan ke seperti semula? Nggak bisa,” ucapnya.
Jelas sekali, sebagai Gubernur, Dedi Mulyadi sedang serius menyoroti kondisi fasilitas publik. Mulai dari jembatan yang usang hingga trotoar yang berantakan. Semua itu, baginya, adalah tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Hadapi Laga Hidup-Mati Lawan Vietnam demi Tiket Semifinal
Kepala DKP DKI Pastikan 7 Ton Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan, Tak Ada Penyalahgunaan
Rano Karno: Kemajuan Jakarta Bukan Hanya Soal Infrastruktur, Tapi Kualitas Manusia
Iran Perbarui Data Korban Tewas, 3.400 Orang Gugur dalam Konflik dengan AS dan Israel