Korupsi Hutan dan Air Mata Sumatra: Saat Bencana Tak Lagi Cuma Soal Alam

- Senin, 01 Desember 2025 | 05:25 WIB
Korupsi Hutan dan Air Mata Sumatra: Saat Bencana Tak Lagi Cuma Soal Alam

Restorasi Hutan Secara Sistematis & Berbasis Ilmu. Reboisasi bukan sekadar tanam bibit untuk foto seremoni. Gunakan tanaman asli agar ekosistem pulih sepenuhnya. Libatkan masyarakat adat dan lokal yang paling memahami hutan mereka jangan jadikan mereka penonton.

Transparansi Total dalam Perizinan & Pengelolaan Lahan. Kita perlu satu peta digital nasional yang dapat diakses publik. Audit izin dengan sanksi pencabutan terhadap pelaku perusakan. Informasi kepemilikan korporasi yang tidak boleh lagi disembunyikan.

Penguatan Penegakan Hukum Lingkungan. Tanpa hukum yang tajam, semua aturan hanya kertas kosong. Harus ada sanksi pidana tegas untuk pelaku ilegal dan penyalahguna izin. Aset perusahaan perusak lingkungan disita untuk pemulihan ekosistem. Pengadilan lingkungan yang cepat, transparan, dan anti intervensi.

Hukum harus memihak pada keselamatan rakyat bukan kepentingan bisnis.

Ekonomi Hijau: Arah Baru Pembangunan Bangsa. Pembangunan tidak harus menghancurkan alam. Kita bisa dorong industri berbasis teknologi ramah lingkungan, kembangkan ekowisata dan pertanian berkelanjutan, berikan insentif untuk energi terbarukan. Ciptakan lapangan kerja hijau bagi generasi muda.

Bangsa ini bisa kaya tanpa melukai dirinya sendiri.

Edukasi Lingkungan yang Serius dan Terintegrasi. Sejak sekolah dasar, anak-anak harus belajar cara menjaga hutan dan sungai, pemahaman risiko bencana, pentingnya hidup selaras dengan alam. Perubahan mental harus dimulai dari pendidikan.

Libatkan Masyarakat sebagai Penjaga Lingkungan Utama. Masyarakat bukan objek kebijakan mereka subjek utama. Berdayakan komunitas lokal sebagai pengawas hutan. Berikan akses legal untuk mengelola hutan secara lestari. Lindungi masyarakat adat dari perampasan tanah.

Jika rakyat diberi hak dan kekuatan, hutan akan terlindungi.

Penutup: Kita Harus Memilih Masa Depan Kita

Tidak ada bangsa besar yang lahir dari pengabaian. Kita tidak boleh pasrah dengan narasi bahwa bencana adalah takdir. Tidak. Takdir manusia ditentukan oleh pilihan yang ia buat hari ini.

Kita harus memilih: Apakah kita ingin dikenang sebagai bangsa yang membiarkan tanahnya sendiri hancur? Ataukah sebagai bangsa yang berjuang menyelamatkan bumi pertiwi dan masa depan generasi penerus?

Kepada pemerintah: Jangan lagi menutup mata.
Kepada pemodal: Keuntungan bukan segalanya kemanusiaan harus lebih tinggi.
Kepada rakyat: Jangan berhenti bersuara.

Karena bangsa yang diam adalah bangsa yang dikubur sejarah.
Dan bangsa yang berjuang adalah bangsa yang akan dikenang.

Mari berdiri bersama.
Mari pulihkan negeri ini.
Mari sembuhkan luka Sumatra dan seluruh Indonesia.
Sebelum semuanya terlambat.

Hormat kami,
Seorang anak bangsa yang ingin melihat Indonesia tetap berdiri megah.


Halaman:

Komentar