Suasana di forum refleksi "Maju Mundur Tuntutan Reformasi 98" yang digelar Rumah Pulang Indonesia, Rabu lalu, terasa begitu tegang. Aktivis lintas generasi dari angkatan 78, 80, 98, hingga Generasi Z saling berbagi pandangan. Yang mengemuka adalah satu hal: kekecewaan mendalam. Cita-cita reformasi 1998, kata mereka, masih jauh panggang dari api.
Demonstrasi Meledak: Dari 20 Kota Menjadi 173 Kota
Agung, aktivis 98, membuka dengan data yang bikin merinding. "Tahun 98 terjadi 20 demonstrasi plus kerusuhan di 20 kota besar," ujarnya. Lalu ia membandingkan dengan situasi sekarang. "Sekarang, kerusuhan Agustus 2025 terjadi di 173 kota menurut Lab 45 dan Media Monitoring Drone Emprit."
Data Kementerian Dalam Negeri yang hanya mencatat 107 kota ia sebut "bohong". Perkembangannya mengkhawatirkan. Mulai dari reformasi dikorupsi 2019 di 22 kota, Gejayan Memanggil 2020 di 25 kota, tolak Presiden 3 Periode 2022 di 40 kota, hingga puncaknya di 173 kota pada Agustus 2025.
"Bara api di bawah karpet sudah menjadi lautan," tegasnya. "Sekali pantik, akan jadi letupan luar biasa. Dan bukan lagi reformasi yang akan terjadi." Ia menyindir teriakan "revolusi" yang kian sering terdengar.
Bencana Demografi Mengintai
Jumhur Hidayat, Ketua Umum KSPSI dan aktivis 80, langsung mematahkan narasi bonus demografi. "Faktanya sekarang kita sedang mengalami bencana demografi," sanggahnya. Ia menyebut ada 10 juta Gen Z dalam keadaan NEET – Not in Employment, Education and Training. "Artinya nganggur," jelasnya blak-blakan.
Kondisi ini, menurutnya, menciptakan potensi kemarahan tinggi. "Perut tidak bisa menunggu," katanya. Ia mengingatkan agar Generasi Z dikawal ide-ide kerakyatan. "Kalau salah diiluminasi dari pemerintahan ke pemerintahan, yang ada generasi emas jadi generasi hancur-hancuran."
Jumhur bahkan menggambarkan skenario suram 20 tahun ke depan. Kecerobohan pemimpin saat ini, ujarnya, bisa membuat Indonesia dikontrol negara asing. Bayangkan, ancaman nuklir diselundupkan lewat bandara yang sistem keamanannya amburadul.
Sejarah Digital Dimanipulasi
Kembali ke Agung. Ia punya temuan lain yang tak kalah mencengangkan. "Seminggu lalu, kalau kita searching di Google atau AI tentang Tuntutan Reformasi 1998, yang muncul adalah 'Adili Soeharto'," ungkapnya. Tapi seminggu kemudian, mendekati acara ini, hasilnya berubah jadi 'Turunkan Soeharto'.
Ia menduga kuat perubahan ini dilakukan "penguasa atau konglomerasi". Kaitannya dengan wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. Meski begitu, ia menekankan perlunya sikap adil dengan menimbang "dosa dan jasa" mantan presiden tersebut.
Dwifungsi ABRI Kembali?
Kritik lain dilontarkan ke kebangkitan peran militer di posisi sipil. Agung menyoroti revisi UU TNI yang menambah pos jabatan sipil untuk militer dari 10 menjadi 16 posisi. Usia pensiun jenderal pun dinaikkan jadi 63 tahun.
"Padahal menurut Kapuspen TNI, ada ratusan perwira tinggi yang tidak memiliki jabatan," ujarnya. Lalu ia menyindir Generasi Z. "Gen Z tidak usah bermimpi dapat kerja, karena pos-pos sipil makin didominasi militer dan polisi."
Kekecewaan Seorang Aktivis 78
Sumiyati, aktivis 78 yang sudah berjuang sejak usia 14 tahun, bicara dengan nada getir. Ia kecewa dengan hasil pemisahan Polri dari TNI yang dulu ia perjuangkan. "Ketika polisi sudah berpisah dari tentara, itu lebih tidak terpikir lagi, sudah luar biasa," katanya. "Kami kecewa karena kami ikut ada di dalam gerakan untuk memisahkan itu."
"Sekarang jenderal-jenderal polisi jadi banking-banking tambang, jadi komisaris, dan aktif tidak pensiun," tambahnya. "Ini membuat kami kecewa. Ternyata itu lebih sadis."
Perempuan yang pernah aktif bersama Ibu-Ibu Suara Peduli pada 1998 ini punya pesan untuk aktivis muda. "Saya tidak mau aktivis itu miskin. Aktivis tetap harus punya standar hidup. Minimal punya rumah, punya mobil, walaupun bukan Lamborghini."
Seruan Jim Lomen: "Mana Sertifikat Negara Ini?"
Jim Lomen Sihombing, aktivis 80, mengangkat isu fundamental. Ia mempertanyakan "akte kelahiran" Indonesia. "1928 itu adalah deklarasi Indonesia lahir," tegasnya. "Kalau 1928 itu sertifikatnya tidak kita sepakati, maka persoalan kemerdekaan tidak akan selesai."
"Yang paling mencemaskan adalah kita tidak punya akte kelahiran bangsa negara kita. Itu yang paling berbahaya. Dari pada Xi Jinping, dari pada Trump, itu yang paling berbahaya," tambah Jim yang mengkritik perayaan nasional yang hanya fokus pada 1945, bukan 1928.
Ia mendorong Gen Z untuk menagih "sertifikat negara" kepada MPR. "Kami bisa menjawab Indonesia Emas 2045 kalau kita punya sertifikat kapan kita lahir. Dari situ kita negosiasi ulang, mau kita apakan Indonesia ini."
5.000 Triliun Menguap Tiap Tahun
Kisman, aktivis 80 dan wartawan senior, mengungkap data yang bikin geleng-geleng. "Prabowo pernah menyampaikan data, setiap tahun selama 10 tahun terakhir, ada kekayaan alam kita yang ke luar negeri 5.000 triliun," ujarnya. "Ini kapitalisasi kalintar orang. Ini reformasi. Apakah ini yang dibuat reformasi? Saya bilang tidak."
Ia menekankan Gen Z harus belajar kembali tentang budaya, jati diri bangsa, dan ideologi. "Filosofi berbangsa kita itu mendahulukan kepentingan orang lain dan kepentingan bersama."
Reformasi: Mimpi Basah atau Dicuri?
Ultra, aktivis 80, menolak anggapan reformasi cuma "mimpi basah". "Dalam reformasi kita melakukan perubahan mendasar. Terjadi perubahan total dan mendasar dalam pengundangan kita, dalam membangun konstitusi," jelasnya.
Tapi ia mengakui ada masalah besar. "Saat dia maju ke depan, saat mulai mengimplementasikan sistem yang benar, itu dicopet. Banyak sekali pencopet terjalan. Banyak sekali orang yang tidak berhak masuk."
Membuka Lembaran Baru
Ketua Rumah Pulang Indonesia, Hanif Thufail, dalam sambutannya menegaskan forum ini bukan untuk saling menyalahkan. Tujuannya belajar dari kesalahan masa lalu. "Jika reformasi eranya sudah selesai, biarlah dia selesai," ujarnya. "Bagaimana kita membicarakan masa depan dan sejarah baru yang akan kita buat."
"Masa depan yang akan datang itu akan dipegang oleh kami, pemilik masa depan," tutup Hanif, mewakili suara Generasi Z yang kini mengambil alih tongkat estafet.
Forum ini menunjukkan satu hal: 27 tahun pasca-reformasi, enam agenda reformasi 1998 masih jauh dari harapan. Bahkan beberapa aspek malah mundur. Para aktivis sepakat, tanpa perbaikan fundamental, Indonesia bukan menuju reformasi lagi, tapi sesuatu yang lebih keras: revolusi.
Artikel Terkait
Christian Eriksen Kolaps di Laga Denmark vs Ukraina, Kondisi Dilaporkan Stabil
Timnas U-19 Indonesia Juara Grup A Usai Taklukkan Vietnam 2-1, Melaju ke Semifinal Piala AFF U-19 2026
Marc Marquez Sempurnakan Hattrick di MotoGP Hungaria 2026, Acosta dan Bagnaia Podium
Indra/Joaquin Runner-Up Indonesia Open 2026, Tembus 10 Besar Dunia