"Sekarang jenderal-jenderal polisi jadi banking-banking tambang, jadi komisaris, dan aktif tidak pensiun," tambahnya. "Ini membuat kami kecewa. Ternyata itu lebih sadis."
Perempuan yang pernah aktif bersama Ibu-Ibu Suara Peduli pada 1998 ini punya pesan untuk aktivis muda. "Saya tidak mau aktivis itu miskin. Aktivis tetap harus punya standar hidup. Minimal punya rumah, punya mobil, walaupun bukan Lamborghini."
Seruan Jim Lomen: "Mana Sertifikat Negara Ini?"
Jim Lomen Sihombing, aktivis 80, mengangkat isu fundamental. Ia mempertanyakan "akte kelahiran" Indonesia. "1928 itu adalah deklarasi Indonesia lahir," tegasnya. "Kalau 1928 itu sertifikatnya tidak kita sepakati, maka persoalan kemerdekaan tidak akan selesai."
"Yang paling mencemaskan adalah kita tidak punya akte kelahiran bangsa negara kita. Itu yang paling berbahaya. Dari pada Xi Jinping, dari pada Trump, itu yang paling berbahaya," tambah Jim yang mengkritik perayaan nasional yang hanya fokus pada 1945, bukan 1928.
Ia mendorong Gen Z untuk menagih "sertifikat negara" kepada MPR. "Kami bisa menjawab Indonesia Emas 2045 kalau kita punya sertifikat kapan kita lahir. Dari situ kita negosiasi ulang, mau kita apakan Indonesia ini."
5.000 Triliun Menguap Tiap Tahun
Kisman, aktivis 80 dan wartawan senior, mengungkap data yang bikin geleng-geleng. "Prabowo pernah menyampaikan data, setiap tahun selama 10 tahun terakhir, ada kekayaan alam kita yang ke luar negeri 5.000 triliun," ujarnya. "Ini kapitalisasi kalintar orang. Ini reformasi. Apakah ini yang dibuat reformasi? Saya bilang tidak."
Ia menekankan Gen Z harus belajar kembali tentang budaya, jati diri bangsa, dan ideologi. "Filosofi berbangsa kita itu mendahulukan kepentingan orang lain dan kepentingan bersama."
Reformasi: Mimpi Basah atau Dicuri?
Ultra, aktivis 80, menolak anggapan reformasi cuma "mimpi basah". "Dalam reformasi kita melakukan perubahan mendasar. Terjadi perubahan total dan mendasar dalam pengundangan kita, dalam membangun konstitusi," jelasnya.
Tapi ia mengakui ada masalah besar. "Saat dia maju ke depan, saat mulai mengimplementasikan sistem yang benar, itu dicopet. Banyak sekali pencopet terjalan. Banyak sekali orang yang tidak berhak masuk."
Membuka Lembaran Baru
Ketua Rumah Pulang Indonesia, Hanif Thufail, dalam sambutannya menegaskan forum ini bukan untuk saling menyalahkan. Tujuannya belajar dari kesalahan masa lalu. "Jika reformasi eranya sudah selesai, biarlah dia selesai," ujarnya. "Bagaimana kita membicarakan masa depan dan sejarah baru yang akan kita buat."
"Masa depan yang akan datang itu akan dipegang oleh kami, pemilik masa depan," tutup Hanif, mewakili suara Generasi Z yang kini mengambil alih tongkat estafet.
Forum ini menunjukkan satu hal: 27 tahun pasca-reformasi, enam agenda reformasi 1998 masih jauh dari harapan. Bahkan beberapa aspek malah mundur. Para aktivis sepakat, tanpa perbaikan fundamental, Indonesia bukan menuju reformasi lagi, tapi sesuatu yang lebih keras: revolusi.
Artikel Terkait
Perfect Match Gegerkan Ibu Kota, Kisah Nyonya Li dan Lima Putrinya yang Heboh Cari Jodoh
Survei Ungkap Jurang Harapan: Elite dan Warga Biaya Punya Tolok Ukur Berbeda Soal Pemimpin Ideal
Ciuman Hangat Puan dan Prananda untuk Megawati di Sela Rakernas PDIP
Habiburokhman Angkat Bicara: KUHP Baru Jamin Pengkritik Pemerintah Tak Dikriminalisasi