Posisi Indonesia sebagai negara besar tidak boleh hanya jadi penonton. Pemerintahan Prabowo harus berani mengambil peran strategis dan menjaga marwah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.
Selain soal kebijakan, Habib Umar menekankan pentingnya pola komunikasi yang sehat antara presiden dan kabinet. Prabowo perlu membuka ruang lebih besar bagi para menteri untuk menyampaikan analisis, masukan, bahkan kritik internal yang konstruktif.
"Prabowo harus sering mendapat masukan dari anggota kabinet. Presiden perlu mendengar suara dari para pembantunya agar kebijakan yang lahir benar-benar matang dan kuat secara teknokratis maupun politis," tuturnya.
Pemerintahan yang kuat, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh figur pemimpinnya, tapi juga bagaimana mekanisme checks and balances internal dijalankan melalui dialog dan pengambilan keputusan berbasis data.
Sebagai bentuk dukungan, Gentari menyatakan kesiapannya memberikan rekomendasi strategis, riset kebijakan, dan penguatan gerakan masyarakat agar arah pembangunan nasional tetap sesuai kepentingan bangsa.
"Kami Gentari siap memberikan dukungan dan solusi untuk pemerintahan Prabowo. Bukan hanya kritik, tapi kontribusi nyata berupa masukan dan gerakan sosial," jelas Habib Umar.
Ia menegaskan organisasinya akan terus mengawal pemerintahan dengan pendekatan moral, intelektual, dan kebangsaan. Prabowo diharapkan memimpin dengan keberanian moral dan ketegasan politik, agar Indonesia tidak tersandera oleh kepentingan sempit atau tekanan politik jangka pendek.
Di akhir pesannya, Habib Umar kembali menegaskan poin utamanya.
"Sekali lagi saya ingatkan jangan ada kebijakan 'banci'. Negara ini butuh ketegasan, dan keberanian seorang kesatria. Dan saya yakin Prabowo adalah Satria piningit yang diharapkan rakyat Indonesia selama ini," katanya. (Ys)
Artikel Terkait
Di Balik Gaduh KUHP Baru: Ketika Hukum Berubah Jadi Hantu di Ruang Publik
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?