Usai rapat tertutup yang cukup panjang bersama Komisi I DPR dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Senayan, Senin lalu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin tampak cukup lega. Rencana besar pembangunan kekuatan pertahanan, yang mencakup desain pasukan hingga target ambisius membangun 150 batalion per tahun di berbagai penjuru tanah air, rupanya mendapat sambutan hangat dari para wakil rakyat.
“Respon dari bapak-bapak dan ibu-ibu anggota Komisi I DPR sangat positif,” ujar Sjafrie kepada awak media yang menunggu di kompleks parlemen.
Namun begitu, dia tak lupa menekankan satu hal. Dukungan itu, menurutnya, harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat. Kritik yang membangun dari para anggota dewan justru sangat diharapkan untuk menyempurnakan kerja mereka.
“Kami justru mengharapkan kontrol sosial dari wakil rakyat di Komisi I tetap intensif. Berikan kami kritik yang konstruktif, baik untuk Kementerian Pertahanan maupun TNI,” tambahnya.
Bagi Sjafrie, pengawasan semacam ini bukanlah hambatan, melainkan bagian penting agar semua program pertahanan berjalan efektif dan tepat sasaran. Tanpanya, mandat negara bisa saja melenceng.
Di sisi lain, penguatan TNI tidak cuma soal menambah jumlah personel. Sjafrie menjelaskan, ada pekerjaan besar lain yang sedang digarap.
“Kita juga membangun pangkalan-pangkalan untuk batalion-batalion yang tersebar di seluruh Indonesia,” pungkasnya, menyiratkan bahwa infrastruktur pendukung tak kalah vital.
Rencana pemerintah memang cukup masif: membentuk 150 batalion infanteri setiap tahunnya. Bayangkan, satu batalion saja biasanya membutuhkan sekitar seribu prajurit. Program ini direncanakan terus berjalan hingga 2029, sebuah upaya besar-besaran untuk menjaga kedaulatan negara dan sekaligus mendukung visi strategis Presiden Prabowo.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok