Sjafrie Buka Suara Soal Rencana 150 Batalion dan Dukungan DPR

- Senin, 24 November 2025 | 17:48 WIB
Sjafrie Buka Suara Soal Rencana 150 Batalion dan Dukungan DPR

Usai rapat tertutup yang cukup panjang bersama Komisi I DPR dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Senayan, Senin lalu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin tampak cukup lega. Rencana besar pembangunan kekuatan pertahanan, yang mencakup desain pasukan hingga target ambisius membangun 150 batalion per tahun di berbagai penjuru tanah air, rupanya mendapat sambutan hangat dari para wakil rakyat.

“Respon dari bapak-bapak dan ibu-ibu anggota Komisi I DPR sangat positif,” ujar Sjafrie kepada awak media yang menunggu di kompleks parlemen.

Namun begitu, dia tak lupa menekankan satu hal. Dukungan itu, menurutnya, harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat. Kritik yang membangun dari para anggota dewan justru sangat diharapkan untuk menyempurnakan kerja mereka.

“Kami justru mengharapkan kontrol sosial dari wakil rakyat di Komisi I tetap intensif. Berikan kami kritik yang konstruktif, baik untuk Kementerian Pertahanan maupun TNI,” tambahnya.

Bagi Sjafrie, pengawasan semacam ini bukanlah hambatan, melainkan bagian penting agar semua program pertahanan berjalan efektif dan tepat sasaran. Tanpanya, mandat negara bisa saja melenceng.

Di sisi lain, penguatan TNI tidak cuma soal menambah jumlah personel. Sjafrie menjelaskan, ada pekerjaan besar lain yang sedang digarap.

“Kita juga membangun pangkalan-pangkalan untuk batalion-batalion yang tersebar di seluruh Indonesia,” pungkasnya, menyiratkan bahwa infrastruktur pendukung tak kalah vital.

Rencana pemerintah memang cukup masif: membentuk 150 batalion infanteri setiap tahunnya. Bayangkan, satu batalion saja biasanya membutuhkan sekitar seribu prajurit. Program ini direncanakan terus berjalan hingga 2029, sebuah upaya besar-besaran untuk menjaga kedaulatan negara dan sekaligus mendukung visi strategis Presiden Prabowo.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar