Gibran Desak G20 Atasi Ketimpangan AI: Jangan Sampai Negara Berkembang Hanya Jadi Pengekspor Bahan Mentah

- Minggu, 23 November 2025 | 20:54 WIB
Gibran Desak G20 Atasi Ketimpangan AI: Jangan Sampai Negara Berkembang Hanya Jadi Pengekspor Bahan Mentah

Di penghujung KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu (23/11), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pesan yang cukup tegas. Ia bicara soal teknologi kecerdasan buatan, yang menurutnya bakal jadi penentu utama kekuatan ekonomi global untuk puluhan tahun ke depan.

"AI akan menentukan kekuatan ekonomi selama beberapa dekade mendatang," ujar Gibran.

Tapi di balik potensinya yang besar, ada masalah serius yang mengintai. Menurutnya, manfaat dari AI saat ini masih sangat timpang. Hanya segelintir perusahaan dari negara maju yang mendominasi, sementara yang lain tertinggal. Kalau dibiarkan, jurang digital bakal makin melebar dan sulit dikejar.

"Namun saat ini, manfaatnya masih sangat timpang, terkonsentrasi di segelintir perusahaan dari beberapa negara maju. Jika ketidakseimbangan ini berlanjut, kesenjangan digital akan semakin dalam," tegasnya.

Karena itu, ia mendesak agar revolusi teknologi yang satu ini tidak mengulangi kesalahan masa lalu. G20, dalam pandangannya, punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa AI justru menjadi alat pemersatu, bukan pemecah.

"Kali ini, kita harus berbuat lebih baik. Revolusi ini harus adil dan harus bermanfaat bagi rakyat. G20 harus memastikan bahwa AI menjadi kekuatan untuk inklusi," seru Gibran.

Ia juga menekankan soal pentingnya tata kelola yang etis. Bukan cuma itu, akses yang setara bagi para inovator di seluruh dunia juga mutlak diperlukan.

"Ini berarti tata kelola yang etis dan, yang lebih penting, akses yang setara, sehingga para inovator di mana pun dapat mengakses kumpulan data, sistem pelatihan, dan platform global," paparnya.

Di sisi lain, Gibran tak lupa menyoroti fondasi fisik yang jadi tulang punggung perkembangan AI. Mulai dari pusat data yang besar, chip berteknologi tinggi, hingga mineral-mineral penting yang jadi bahan bakunya. Permintaan global terhadap komponen-komponen ini melonjak pesat.

Tapi sayangnya, negara berkembang sering kali cuma jadi pengekspor bahan mentah. Nilai tambahnya justru dinikmati oleh pihak lain. Situasi ini, menurutnya, tidak boleh terulang.

"Dari pusat data hingga chip canggih, AI bergantung pada mineral penting, dan permintaan global akan input ini berkembang pesat. Namun, terlalu lama negara-negara berkembang mengekspor bahan mentah ketika nilai sebenarnya diambil dari tempat lain," imbuhnya.

Itulah sebabnya Indonesia memilih strategi yang berbeda. Fokusnya adalah membangun industri dalam negeri dan mendorong investasi di sektor hilir. Tujuannya jelas: memastikan rakyat Indonesia bisa menikmati manfaat dari kekayaan alamnya sendiri.

"Kita tidak boleh mengulanginya. Inilah mengapa Indonesia memilih jalan yang berbeda. Kita membangun industri di dalam negeri dan berinvestasi dalam transformasi hilir, serta memastikan rakyat kita mendapatkan manfaat dari kekayaan alam mereka sendiri," tutup Gibran.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar