Predikat "netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara" yang pernah disematkan pada warganet Indonesia ternyata bukan isapan jempol belaka. Di balik keramahan senyum di dunia nyata, ada watak yang sama sekali berbeda begitu jari-jari mereka menyentuh layar ponsel. Coba saja buka kolom komentar di media sosial. Penuh dengan cacian, makian, perundungan siber, hingga penyebaran hoaks yang seolah tak ada saringannya.
Fenomena ini jauh lebih serius dari sekadar kenakalan digital. Ini adalah alarm, sebuah krisis kewarganegaraan baru di mana etika berbangsa di ruang publik digital perlahan-lahan luntur. Media sosial yang seharusnya jadi jembatan komunikasi, justru kerap berubah menjadi arena pertempuran yang sengit.
Polarisasi politik pasca pemilu masih terasa begitu kental, misalnya. Perbedaan pendapat sekarang jarang disikapi dengan argumen yang masuk akal. Lebih sering, semuanya berujung pada serangan personal yang memecah belah masyarakat menjadi kubu "kita" melawan "mereka". Rasanya, ruang untuk diskusi yang sehat semakin sempit.
Ruang Gema yang Mematikan Akal Sehat
Salah satu biang keroknya adalah algoritma media sosial. Tanpa kita sadari, algoritma ini menciptakan ruang gema atau echo chamber. Kita cenderung hanya mengikuti dan berteman dengan akun-akun yang sepemikiran. Akibatnya, kita jadi merasa pandangan kitalah yang paling benar. Pandangan lain dianggap sebagai ancaman.
Nah, ketika ada informasi yang berbeda, respons pertama seringkali bukan verifikasi, melainkan antipati. Di sinilah hoaks dan disinformasi menemukan lahan suburnya. Netizen tak lagi mencari kebenaran, melainkan pembenaran. Ujaran kebencian pun dikemas indah dengan dalih "kebebasan berpendapat", padahal jelas-jelas itu adalah pelanggaran terhadap hak orang lain untuk merasa aman.
Dikuasai Mentalitas Kerumunan
Perilaku beringsut di dunia maya juga kerap dipicu oleh herd mentality. Seseorang yang mungkin pendiam di dunia nyata, tiba-tiba bisa berubah menjadi agresor di dunia digital karena merasa punya "banyak teman" yang mendukung.
Begitu satu akun 'dirujak' atau diserang, ribuan orang lain ikut-ikutan menyerang tanpa benar-benar paham duduk permasalahannya. Semua dilakukan demi solidaritas semu, atau sekadar takut ketinggalan tren (FOMO). Ditambah lagi, identitas anonim di media sosial membuat orang semakin mudah melepas tanggung jawab moralnya. Mereka lupa, di balik akun yang mereka hujat, ada manusia nyata dengan perasaan yang bisa terluka.
Intinya Ada di Literasi
Semua masalah ini bermuara pada satu hal: rendahnya literasi digital. Meski penetrasi internet kita tinggi, kemampuan masyarakat untuk menelaah informasi masih sangat rendah. Banyak pengguna internet kita yang "gagap teknologi" secara kultural. Mereka memegang alat canggih seperti smartphone, tapi mentalitas komunikasinya masih feodal dan dikuasai emosi. Prinsip "saring sebelum sharing" seolah tidak ada.
Kualitas nalar kritis kita, seperti yang kerap disinggung dalam isu pendidikan nasional, memang butuh perbaikan yang serius. Ini bukan sekadar soal bisa baca tulis, tapi juga tentang bagaimana menyikapi informasi.
Mengembalikan Kesantunan Bangsa
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Jika kita bangga disebut bangsa yang ramah, maka keramahan itu harus tercermin juga di dunia maya. Kewarganegaraan masa kini menuntut kita tidak hanya taat hukum di jalan raya, tapi juga beradab di jalan maya.
Menghentikan jari untuk tidak mengetik komentar jahat saat emosi adalah bentuk patriotisme baru. Memverifikasi berita sebelum menyebarkannya adalah bela negara di era informasi. Bayangkan, jika ruang sipil kita terus dipenuhi racun kebencian, kitalah yang akhirnya rugi. Kita akan kehilangan wadah diskusi yang sehat, yang justru sangat kita butuhkan untuk memajukan bangsa ini bersama-sama.
Artikel Terkait
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India