Dari 2.491 Kali Ditolak Jadi Rebutan 12.000 Perusahaan, Pria Ini Pilih Pulang Kampung

- Jumat, 09 Januari 2026 | 16:20 WIB
Dari 2.491 Kali Ditolak Jadi Rebutan 12.000 Perusahaan, Pria Ini Pilih Pulang Kampung

Viral! Seorang pria tiba-tiba jadi buruan para HRD. Gimana nggak? Dia baru saja diterima kerja di 12.000 perusahaan sekaligus.

Heboh ini berawal dari dibukanya 19 juta lowongan kerja baru di Desa Cianjai, Kecamatan Cianjir. Sebuah jumlah yang nyaris mustahil, tapi begitulah faktanya.

Si pelamar, seorang pria berinisial Buhun, sebelumnya adalah sosok yang akrab dengan penolakan. Konon, dia sudah melamar kerja sampai 2.491 kali di negerinya sendiri. Hasilnya? Nol besar. Tanpa orang dalam, tanpa koneksi atau istilah kerennya, ‘orang aring’ jalannya selalu mentok.

Namun begitu, nasib ternyata bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.

Kini, Buhun justru jadi rebutan. Diterima massal dan diburu layaknya aset langka oleh perusahaan-perusahaan yang dulu mungkin tak pernah membalas lamarannya.

Menurut cerita yang beredar, Buhun selama ini menghadapi sistem rekrutmen yang aneh-aneh. Syaratnya banyak, tapi seringnya nggak masuk akal. Misalnya, batas usia yang super ketat, wajib good looking sejak lahir, sampai diminta punya pengalaman kerja sepuluh tahun untuk posisi yang seharusnya entry-level.

Belum lagi syarat lain yang bikin geleng-geleng: harus sanggup kerja di bawah tekanan tinggi, menguasai empat elemen, dan bahkan bisa melawan Raja Api Ozai. Semua itu dengan imbalan gaji yang, ya, ‘anjay’ saja.

Di sisi lain, ironisnya justru terjadi saat peluang itu datang membeludak. Alih-alih bahagia, Buhun malah kewalahan. Dikejar-kejar 12.000 perusahaan bukan perkara sederhana.

Demi menjaga keadilan dan yang paling penting kesehatan mentalnya, dia akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang.

Buhun memutuskan untuk menolak semua tawaran kerja itu. Semuanya. Lalu, dengan tenang, dia memilih pulang kembali ke kampung halamannya.

Dengan keputusan itu, gelarnya sebagai pelamar kerja legendaris tetap utuh. Bahkan, mungkin makin melegenda.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar