Tak lupa, ia juga mengutip mantan presiden legendaris, Nelson Mandela, untuk memperkuat posisinya. "Sudah saatnya Afrika Selatan mengambil peran yang layak dan bertanggung jawab dalam komunitas global," katanya, menyadur semangat Mandela.
Lebih jauh, Ramaphosa menjelaskan bahwa cakupan pembahasan dalam G20 kini jauh lebih luas. Bukan cuma soal ekonomi makro lagi, tapi sudah merambah ke perdagangan, lingkungan, teknologi, pertanian, dan energi. "Lingkup ini harus meluas, karena inilah tantangan yang dihadapi oleh miliaran orang di dunia," ucapnya. Ini adalah realitas baru yang tak bisa dihindari.
Sebagai anggota pendiri G20, Afsel berupaya keras memastikan suara dari Global South dan benua Afrika tidak lagi dipinggirkan. Mereka ingin prioritas pembangunan kawasan ini punya tempat yang kokoh dan permanen dalam agenda G20 ke depan.
"Ini penting bukan hanya untuk rakyat Afrika," tandas Ramaphosa. "Ini adalah hal vital bagi stabilitas dan keamanan global secara keseluruhan, karena membantu mengurangi tekanan sumber daya, mengelola perpindahan penduduk, dan menurunkan risiko konflik."
Pesan itu jelas. Di tengah absennya salah satu pemain utama, Afrika Selatan berusaha menunjukkan bahwa forum ini tetap relevan. Bahwa suara dari Selatan Global patut didengar. Dan bahwa Johannesburg, dengan segala kompleksitasnya, sedang menulis babak baru dalam diplomasi dunia.
Artikel Terkait
Anies Baswedan: Jika Aturan Zonasi Ketat Diterapkan, 75 Persen Jakarta Bisa Jadi Ruang Hijau
Ijazah Jokowi Tersangkut di Polda, Sidang Citizen Lawsuit di Solo Terus Berlanjut
Prabowo Serahkan Bonus Rp 456 Miliar, Pesan Khusus untuk Atlet SEA Games
Dari Gilgamesh ke Amazon: Kisah Abadi Manusia dan Kutukan Hutan