Polisi dengan Riwayat Skizofrenia Amuk Warga di Depan Polda Sumut

- Jumat, 21 November 2025 | 01:36 WIB
Polisi dengan Riwayat Skizofrenia Amuk Warga di Depan Polda Sumut
Insiden di Medan: Polisi dengan Gangguan Jiwa Aniaya Warga

Insiden di Medan: Polisi dengan Gangguan Jiwa Aniaya Warga

Video seorang pria berbaju polisi yang sedang menganiaya pria lain tiba-tiba membanjiri media sosial. Lokasinya? Tepat di depan Polda Sumatera Utara, Medan. Sungguh ironis.

Polda Sumut akhirnya angkat bicara. Mereka membenarkan bahwa pelaku pemukulan itu memang salah satu anggotanya yang sedang bertugas.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi pada Selasa siang itu. Menurutnya, Brigadir G, sang pelaku, dan Aiptu D sedang berboncengan motor hendak keluar dari markas. Tiba-tiba, dari belakang, mereka ditabrak oleh seorang pegawai bandara berinisial ALP.

"Setelah insiden tersebut anggota kami yang mengendarai sepeda motor berinisial G melakukan pemukulan terhadap korban," ucap Ferry di Polda Sumut, Kamis (20/11).

Nah, yang menarik di sini adalah kondisi si pelaku. Ferry menyebutkan bahwa Brigadir G terindikasi memiliki gangguan kejiwaan. Itu alasan di balik tindakan brutalnya.

Korban, ALP, langsung dibawa Aiptu D ke poliklinik Polda untuk pertolongan pertama. "Ada luka dan informasinya diopname di salah satu rumah sakit di Medan," imbuhnya. Kondisinya cukup serius hingga harus dirawat inap.

Sementara korban menjalani perawatan, Brigadir G justru diamankan di rumah sakit jiwa untuk observasi. "Karena perilaku yang bersangkutan saat ini Brigadir G sedang kami observasi di rumah sakit jiwa," jelas Ferry.

Dokter Superida dari Rumah Sakit Bhayangkara Tk II Medan memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia membeberkan bahwa Brigadir G didiagnosa menderita skizofrenia. "Gangguan perilaku, gangguan daya ingat jadi emosinya kurang stabil," katanya.

Menurut dokter tersebut, pasien skizofrenia sebenarnya masih bisa berbaur di masyarakat. Tapi, ada satu catatan penting. Tindakan kekerasan bisa meledak tiba-tiba jika ada pemicu yang tepat. "Ketika ada pemicunya," ujarnya singkat.

Yang mencengangkan, masalah kesehatan jiwa Brigadir G ini bukanlah hal baru. Ia sudah dirawat sejak 2001 dengan diagnosa yang sama. Selama ini, ia hanya menjalani rawat jalan.

"Beliau kami rawat sejak tahun 2001 sama Prof El Maeda dan beberapa tahun ini lanjut ke saya," sambung Superida.

Lalu, apa pemicu gangguan ini? Dokter Superida menyebut ada banyak faktor. Bisa karena masalah keluarga, atau ketidakseimbangan hormon di otak. Dalam kasus Brigadir G, masalah rumah tangga menjadi titik berat. "Yang paling ia keluhkan karena ia bercerai dengan istrinya," ungkapnya.

Di tengah semua ini, ada secercah harapan. Penyakit yang diderita Brigadir G disebutkan masih memiliki kemungkinan untuk disembuhkan. "Kemungkinan besar ada," pungkas Superida. Tapi tentu, itu tak lantas mengabaikan fakta bahwa seorang warga harus menjadi korban amukannya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar