Gencatan senjata sepuluh hari antara Israel dan Lebanon akhirnya resmi berlaku. Tapi, di lapangan, situasinya jauh dari kata tenang. Bahkan, belum genap satu jam setelah kesepakatan itu mulai berlaku tengah malam waktu setempat, suara tembakan sudah kembali menggema.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), artileri Israel menembaki wilayah selatan Lebanon. Operasi penyapuan dengan tembakan senapan mesin juga disebut-sebut terjadi di daerah yang sama. Di wilayah lain, tepatnya di Lembah Bekaa barat, aktivitas pesawat pengintai Israel dilaporkan sangat intens di atas Rashaya dan lereng barat Jabal al-Sheikh.
Keadaan tak kalah mencekam di ibu kota. Dari pinggiran selatan Beirut, benteng kuat Hizbullah, suara tembakan dan ledakan RPG terdengar keras tak lama setelah tengah malam. Seorang jurnalis AFP di lokasi melaporkan, suara baku tembak itu berlangsung lebih dari setengah jam. Langit malam terlihat dihiasi jejak merah peluru yang membubung tinggi.
Di tengah situasi yang masih panas, mantan Presiden AS Donald Trump menyampaikan harapannya. Melalui unggahan di Truth Social, dia meminta Hizbullah untuk bersikap baik.
“Saya harap Hizbullah bertindak baik dan sopan selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen HEBAT bagi mereka jika mereka melakukannya,” tulis Trump.
“Tidak ada lagi pembunuhan. Akhirnya harus ada DAMAI!” tambahnya.
Sayangnya, seruan perdamaian itu sepertinya belum sepenuhnya diindahkan. Rekaman video yang beredar di media sosial justru menunjukkan hal lain. Di beberapa daerah selatan, antrean mobil terlihat panjang. Rupanya, banyak warga yang memanfaatkan momen gencatan senjata ini untuk kembali ke rumah mereka yang sempat ditinggalkan.
Sementara itu, sikap resmi Hizbullah sendiri masih samar-samar. Kelompok itu belum secara terbuka menyatakan akan mengakui gencatan senjata. Namun begitu, ada sedikit sinyal dari salah satu anggotanya di parlemen Lebanon yang berbicara kepada AFP. Menurut politisi itu, Hizbullah akan menghormati gencatan senjata, tapi dengan satu syarat: Israel harus menghentikan serangannya terhadap milisi kelompok tersebut.
Pemerintah Amerika, di sisi lain, punya harapan besar terhadap kesepakatan ini. Lewat pernyataan Departemen Luar Negeri AS, gencatan senjata ini disebut sebagai pintu masuk untuk negosiasi yang lebih serius. Tujuannya jelas: mencapai perjanjian damai dan keamanan yang permanen antara kedua negara yang bertetangga itu.
Di lapangan, suasana tetap beraroma konflik. Rekaman AFPTV menunjukkan warga mulai berdatangan kembali ke pinggiran selatan Beirut. Beberapa di antaranya bahkan dengan terang-terangan mengibarkan bendera kuning Hizbullah, atau membawa potret Hassan Nasrallah, pemimpin mereka yang tewas dibunuh Israel dua tahun lalu.
Gencatan senjata 10 hari yang diumumkan Trump ini memang baru saja dimulai. Tapi jalan menuju perdamaian yang sesungguhnya, tampaknya, masih sangat panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Bentuk Petugas Khusus untuk Atasi Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Perempuan Tewas di Rumahnya di Serpong, Polisi Tunggu Hasil Autopsi
PDIP Tanggapi Isu Nepotisme di Pelantikan Putra Bupati Malang
TNI Kerahkan 209 Personel Bantu Evakuasi Helikopter Jatuh di Sekadau