Lambat laun, bisnis ini menjamur luar biasa. Sekarang, lihat saja. Hampir setiap warung sembako di sudut-sudut Jakarta dikelola oleh orang Madura. Mereka sudah membentuk semacam ekosistem sendiri.
Di sisi lain, fenomena bisnis yang didominasi satu etnis tertentu ini ternyata nggak cuma terjadi di Jakarta. Di kota saya sendiri, contohnya, konter pulsa kebanyakan justru dijalankan oleh perantau asal Bali. Entah bagaimana awalnya, tapi itu yang terjadi.
Kalau urusan warung makan, ya sudah pasti identik dengan orang Jawa dan Padang. Sementara untuk mebel dan kerajinan kayu, orang Toraja yang paling menonjol. Lalu, coba lihat para pedagang di pasar. Banyak dari mereka berasal dari suku Bugis dan Makassar. Sedangkan untuk bisnis kain dan gorden, orang Bulukumba-lah yang mendominasi.
Jadi, memang ada polanya. Seperti mozaik yang tersusun rapi, setiap kelompok punya cerita dan jalurnya masing-masing.
Artikel Terkait
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Khusus untuk Berantas Penipuan Haji dan Umrah
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja