Bentrokan pecah lagi di Minneapolis, Kamis lalu. Udara tegang menyelimuti kota itu, menyusul insiden penembakan fatal terhadap seorang wanita sehari sebelumnya. Renee Nicole Good, 37 tahun, tewas setelah ditembak oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Kerusuhan pun tak terhindarkan.
Di sisi lain, di kota Portland, Oregon, situasi tak kalah mencekam. Kepolisian setempat melaporkan dua orang terluka akibat tembakan agen federal pada Kamis sore. "Dua orang dirawat di rumah sakit setelah penembakan yang melibatkan agen federal. Seorang pria dan wanita terluka oleh luka tembak yang jelas," begitu pernyataan resmi mereka. Kabar ini semakin memanaskan suasana.
Gubernur Oregon, Tina Kotek, langsung angkat bicara. Dalam konferensi pers malam itu, ia menyuarakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekerasan oleh agen federal. Ia mendesak diadakannya penyelidikan penuh. Suaranya lantang menuntut keadilan.
Detik-detik Tragedi Good
Menurut sejumlah saksi, semua berlangsung cepat. Good ditembak di kepala ketika berusaha menjauh dari agen ICE yang mendekati mobilnya. Para petugas beralasan mobil Honda SUV-nya menghalangi jalan mereka.
Rekaman video dari Rabu memperlihatkan mencekam. Seorang agen mencoba membuka paksa pintu mobil Good. Lalu, petugas lain yang berdiri di dekat bemper depan, melepaskan tiga tembakan ke arah kendaraan yang sedang bergerak itu.
Mobil itu kemudian melaju tak terkendali dan menabrak beberapa mobil parkir. Suara teriakan dan cacian memenuhi udara. Para saksi mata yang ketakutan menyaksikan tubuh Good yang berlumuran darah terkulai lemas di balik kemudi.
Yang membuat banyak pihak geram, polisi menyatakan Good adalah warga negara AS. Dia bukan target operasi imigrasi. Kecurigaan awal terhadapnya cuma satu: menghalangi lalu lintas.
Dia meninggalkan seorang istri dan anak berusia enam tahun. Hingga kini, lebih dari 800 ribu dolar AS telah terkumpul dari penggalangan dana untuk keluarga yang ditinggalkan.
Ibu korban, Donna Ganger, berbicara lirih pada sebuah media lokal. Ia menduga putrinya saat itu "mungkin ketakutan". Ia juga menegaskan Good "bukan bagian" dari gerakan anti-ICE manapun.
Di lokasi kematiannya, tugu peringatan dari bunga dan lilin kian hari kian membesar. Para pemimpin agama bergantian berpidato, mencoba menenangkan kerumunan yang berduka sekaligus marah.
Klaim dari Pihak Berwenang
Namun begitu, narasi dari pihak pemerintah sama sekali berbeda. Presiden Donald Trump dan pejabat seniornya justru mengklaim Good mencoba membunuh agen ICE.
"Saya ingin melihat tidak ada yang ditembak. Saya ingin melihat tidak ada yang berteriak dan mencoba menabrak polisi," kata Trump dalam sebuah wawancara.
Pendapat senada datang dari Wakil Presiden JD Vance. Tanpa menyertakan bukti, ia menyebut Good adalah bagian dari "jaringan sayap kiri yang lebih luas" yang memusuhi ICE. Baginya, tindakan penembakan itu murni "membela diri".
Artikel Terkait
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan