Minneapolis Bergolak Lagi, Korban Tewas dan Narasi yang Bertolak Belakang

- Jumat, 09 Januari 2026 | 12:48 WIB
Minneapolis Bergolak Lagi, Korban Tewas dan Narasi yang Bertolak Belakang

Bentrokan pecah lagi di Minneapolis, Kamis lalu. Udara tegang menyelimuti kota itu, menyusul insiden penembakan fatal terhadap seorang wanita sehari sebelumnya. Renee Nicole Good, 37 tahun, tewas setelah ditembak oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Kerusuhan pun tak terhindarkan.

Di sisi lain, di kota Portland, Oregon, situasi tak kalah mencekam. Kepolisian setempat melaporkan dua orang terluka akibat tembakan agen federal pada Kamis sore. "Dua orang dirawat di rumah sakit setelah penembakan yang melibatkan agen federal. Seorang pria dan wanita terluka oleh luka tembak yang jelas," begitu pernyataan resmi mereka. Kabar ini semakin memanaskan suasana.

Gubernur Oregon, Tina Kotek, langsung angkat bicara. Dalam konferensi pers malam itu, ia menyuarakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekerasan oleh agen federal. Ia mendesak diadakannya penyelidikan penuh. Suaranya lantang menuntut keadilan.

Detik-detik Tragedi Good

Menurut sejumlah saksi, semua berlangsung cepat. Good ditembak di kepala ketika berusaha menjauh dari agen ICE yang mendekati mobilnya. Para petugas beralasan mobil Honda SUV-nya menghalangi jalan mereka.

Rekaman video dari Rabu memperlihatkan mencekam. Seorang agen mencoba membuka paksa pintu mobil Good. Lalu, petugas lain yang berdiri di dekat bemper depan, melepaskan tiga tembakan ke arah kendaraan yang sedang bergerak itu.

Mobil itu kemudian melaju tak terkendali dan menabrak beberapa mobil parkir. Suara teriakan dan cacian memenuhi udara. Para saksi mata yang ketakutan menyaksikan tubuh Good yang berlumuran darah terkulai lemas di balik kemudi.

Yang membuat banyak pihak geram, polisi menyatakan Good adalah warga negara AS. Dia bukan target operasi imigrasi. Kecurigaan awal terhadapnya cuma satu: menghalangi lalu lintas.

Dia meninggalkan seorang istri dan anak berusia enam tahun. Hingga kini, lebih dari 800 ribu dolar AS telah terkumpul dari penggalangan dana untuk keluarga yang ditinggalkan.

Ibu korban, Donna Ganger, berbicara lirih pada sebuah media lokal. Ia menduga putrinya saat itu "mungkin ketakutan". Ia juga menegaskan Good "bukan bagian" dari gerakan anti-ICE manapun.

Di lokasi kematiannya, tugu peringatan dari bunga dan lilin kian hari kian membesar. Para pemimpin agama bergantian berpidato, mencoba menenangkan kerumunan yang berduka sekaligus marah.

Klaim dari Pihak Berwenang

Namun begitu, narasi dari pihak pemerintah sama sekali berbeda. Presiden Donald Trump dan pejabat seniornya justru mengklaim Good mencoba membunuh agen ICE.

"Saya ingin melihat tidak ada yang ditembak. Saya ingin melihat tidak ada yang berteriak dan mencoba menabrak polisi," kata Trump dalam sebuah wawancara.

Pendapat senada datang dari Wakil Presiden JD Vance. Tanpa menyertakan bukti, ia menyebut Good adalah bagian dari "jaringan sayap kiri yang lebih luas" yang memusuhi ICE. Baginya, tindakan penembakan itu murni "membela diri".

"Ini bagian dari upaya yang lebih luas untuk menyerang, membongkar identitas, dan membuat petugas ICE kami tidak mungkin bekerja," sambung Vance dengan tegas.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, ikut bersuara. Ia menegaskan aparat penegak hukum AS sedang menghadapi serangan yang terorganisir.

Protes Meluas, Kota Menegang

Eskalasi demonstrasi di Minneapolis makin menjadi setelah Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut aksi protes sebagai "tugas patriotik". Pernyataannya seperti menyulut bensin.

Shanda Copeland, seorang peserta unjuk rasa berusia 62 tahun, menggambarkan amarah warga. "Melihat wanita itu dibunuh kemarin tidak lagi. Saya tidak bisa hanya duduk di rumah dan menontonnya," ujarnya.

"Paling tidak saya ada di sini. Saya akan menyuarakan pendapat saya sekeras mungkin," tambahnya.

Antisipasi kerusuhan memaksa sekolah-sekolah di Minneapolis tutup selama dua hari. Suasana kota berubah jadi mirip medan perang.

Gubernur Walz bersikukuh bahwa negara bagian harus dilibatkan dalam penyelidikan. Jika tidak, menurutnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri akan bertindak sebagai "hakim, juri, dan algojo".

Tapi Vance punya pandangan lain. Ia yakin penyelidikan federal akan membebaskan petugas yang terlibat. "Gagasan bahwa ini tidak dibenarkan adalah absurd," tukasnya singkat.

Latar Belakang yang Panas

Insiden memilukan ini terjadi di tengah gelombang protes atas penegakan hukum imigrasi di Minneapolis Selatan. Janji Trump untuk mendeportasi "jutaan" imigran tanpa dokumen telah memicu kemarahan luas di komunitas tersebut.

Ketakutan itu nyata. Abdinasir Abdullahi, 38 tahun, warga AS naturalisasi asal Ethiopia, mengaku kini tak pernah keluar tanpa membawa paspor. Ia takut pada ICE.

"Mereka tidak percaya jika saya mengatakan saya warga negara. Mereka tidak mau mempercayai Anda," keluhnya. Kata-katanya mewakili perasaan banyak orang yang hidup dalam kecemasan.

Minneapolis masih berduka. Dan amarahnya masih menyala-nyala.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar