"Ini bagian dari upaya yang lebih luas untuk menyerang, membongkar identitas, dan membuat petugas ICE kami tidak mungkin bekerja," sambung Vance dengan tegas.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, ikut bersuara. Ia menegaskan aparat penegak hukum AS sedang menghadapi serangan yang terorganisir.
Protes Meluas, Kota Menegang
Eskalasi demonstrasi di Minneapolis makin menjadi setelah Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut aksi protes sebagai "tugas patriotik". Pernyataannya seperti menyulut bensin.
Shanda Copeland, seorang peserta unjuk rasa berusia 62 tahun, menggambarkan amarah warga. "Melihat wanita itu dibunuh kemarin tidak lagi. Saya tidak bisa hanya duduk di rumah dan menontonnya," ujarnya.
"Paling tidak saya ada di sini. Saya akan menyuarakan pendapat saya sekeras mungkin," tambahnya.
Antisipasi kerusuhan memaksa sekolah-sekolah di Minneapolis tutup selama dua hari. Suasana kota berubah jadi mirip medan perang.
Gubernur Walz bersikukuh bahwa negara bagian harus dilibatkan dalam penyelidikan. Jika tidak, menurutnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri akan bertindak sebagai "hakim, juri, dan algojo".
Tapi Vance punya pandangan lain. Ia yakin penyelidikan federal akan membebaskan petugas yang terlibat. "Gagasan bahwa ini tidak dibenarkan adalah absurd," tukasnya singkat.
Latar Belakang yang Panas
Insiden memilukan ini terjadi di tengah gelombang protes atas penegakan hukum imigrasi di Minneapolis Selatan. Janji Trump untuk mendeportasi "jutaan" imigran tanpa dokumen telah memicu kemarahan luas di komunitas tersebut.
Ketakutan itu nyata. Abdinasir Abdullahi, 38 tahun, warga AS naturalisasi asal Ethiopia, mengaku kini tak pernah keluar tanpa membawa paspor. Ia takut pada ICE.
"Mereka tidak percaya jika saya mengatakan saya warga negara. Mereka tidak mau mempercayai Anda," keluhnya. Kata-katanya mewakili perasaan banyak orang yang hidup dalam kecemasan.
Minneapolis masih berduka. Dan amarahnya masih menyala-nyala.
Artikel Terkait
Bambang Tri Mulyono Kembali ke Meja Hijau, Gugat Ijazah Presiden di Ulang Tahunnya
Tito Karnavian Kualat Lupa Sebut Nama Purbaya di Rapat Satgas Aceh
RSUD di Sumatera Kembali Beroperasi, Namun Sejumlah Puskesmas Masih Terhenti
Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise