Stasiun Cikarang menjelang dini hari berubah wajah. Taman dan pelataran parkirnya menjelma menjadi semacam "hotel darurat," dipadati para pekerja lelah yang terpaksa menunggu kereta pertama usai lembur. Mereka bukan gelandangan, melainkan tulang punggung keluarga yang terjebak di sela waktu operasional transportasi umum.
Kereta terakhir melintas sekitar pukul 23.30 WIB, sementara kereta pertama baru beroperasi pukul 04.00 WIB. Di rentang waktu hampir lima jam itulah, stasiun menjadi tempat berteduh bagi mereka yang kehabisan opsi.
Beralaskan Lantai Dingin
Teguh, 35, adalah salah satu dari sekian banyak pekerja yang terpaksa menggelar alas tidur di lantai parkir. "Pulang kerja ketinggalan kereta, terpaksa tidur di sini," ujarnya dengan suara lirih.
Risiko harus ditanggung. Selain terpaan angin malam, kekhawatiran akan keselamatan barang bawaan selalu menghantui. "Takut kehilangan barang. Yang penting itu alat komunikasi, paling takut hilang," tuturnya.
Dia berharap ada kebijakan dari pengelola stasiun untuk menyediakan ruang tunggu atau tempat istirahat sederhana bagi pekerja dalam situasi seperti ini. "Kalau ada tempat menginap sederhana atau ruang tunggu malam, kan lebih aman," harapnya.
Masuk Angin Jadi Resiko Harian
Cerita serupa datang dari Malvi, 23, pekerja yang harus pulang ke Tebet, Jakarta Selatan. Baginya, tidur di taman stasiun sudah menjadi rutinitas ketika lembur menghalangi untuk mengejar kereta terakhir.
"Nggak ada pilihan lain sih. Takut masuk angin ya sudah jadi risiko. Di sini nggak ada fasilitas tempat beristirahat," keluhnya.
Pertanyaan tentang mengapa tidak mencari kos di dekat tempat kerja dijawabnya dengan gelengan kepala. "Saya cari kos yang murah, tapi belum nemu. Kerjaan juga daily worker, jadi jam masuknya nggak tentu," jelas Malvi.
Ruang Tunggu yang Terkunci
Menurut pengakuan para penumpang, ruang tunggu stasiun justru ditutup setelah jam operasional berakhir. Petugas meminta mereka menunggu di area terbuka hingga pagi tiba.
Kondisi ini dinilai tidak manusiawi, terutama bagi pekerja shift malam dengan penghasilan pas-pasan. "Pengennya aksesnya lebih mudah. Terus tempat peristirahatan tolong disediakan juga, biar aman, nggak kedinginan," pinta Malvi.
Fenomena "hotel darurat" ini mengungkap realita getir para pekerja kawasan industri yang masih sangat bergantung pada transportasi publik dengan jam operasi terbatas. Di balik gemerlap industri, ada ratusan Teguh dan Malvi yang terpaksa berdamai dengan dinginnya lantai stasiun demi bisa pulang ke rumah.
Artikel Terkait
Mantan Pimpinan DPRD Sulsel Bantah Pernah Bahas Anggaran Bibit Nanas
Presiden Bentuk Satgas Khusus untuk Akselerasi Program Ekonomi
Video Perundungan Siswa SMP di Tuban Viral, Polisi Lakukan Penyidikan
Truk Angkut Belimbing Nyemplung ke Pagar Rumah di Ponorogo, Sopir Selamat