Paradoks Ekonomi Hijau: Solusi atau Ilusi dalam Pengelolaan Sampah?
Ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan telah menjadi tren global dalam pengelolaan lingkungan hidup, termasuk penanganan sampah. Pemerintah, industri, dan masyarakat aktif mengampanyekan daur ulang, teknologi waste to energy, serta gaya hidup ramah lingkungan. Namun, di balik antusiasme tersebut tersembunyi paradoks yang mengkhawatirkan.
Fakta menunjukkan volume sampah Indonesia justru terus meningkat, timbunan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin menggunung, dan ketimpangan sosial semakin melebar. Data terbaru menyebutkan Indonesia menghasilkan lebih dari 19 juta ton sampah setiap tahun, dengan 40% berasal dari rumah tangga. Hanya sekitar 65% sampah yang berhasil ditangani, sementara sisanya mencemari lingkungan, sungai, dan laut.
Kapitalisme Hijau: Transformasi atau Ilusi?
Konsep kapitalisme hijau berangkat dari keyakinan bahwa pasar dan inovasi teknologi mampu memperbaiki kerusakan lingkungan. Teori ecological modernization menyatakan industri dapat terus tumbuh sambil meminimalkan dampak lingkungan melalui efisiensi dan ekonomi sirkular. Namun, kritik dari berbagai ahli mengungkapkan hal berbeda.
Para pemikir lingkungan menilai kapitalisme memiliki kontradiksi ekologis yang melekat. Sistem ekonomi yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam untuk keuntungan tidak akan pernah benar-benar berkelanjutan. Kapitalisme hijau dinilai hanya strategi untuk mempertahankan sistem lama dengan wajah yang lebih ramah lingkungan.
Realita Pengelolaan Sampah di Indonesia
Proyek waste to energy (pembangkit listrik tenaga sampah) sering digadang-gadang sebagai inovasi ramah lingkungan. Namun dalam praktiknya, banyak proyek mengalami kendala teknis, pembengkakan biaya, dan berpotensi menimbulkan emisi berbahaya. Sistem ini justru membutuhkan suplai sampah dalam jumlah besar agar tetap beroperasi, menciptakan ketergantungan pada produksi limbah yang terus menerus.
Industri daur ulang plastik juga sering menjadi simbol ekonomi hijau. Kampanye produk recycled menciptakan citra positif, padahal kenyataannya hanya sebagian kecil plastik yang benar-benar dapat didaur ulang karena keterbatasan teknologi dan pasar. Sisa daur ulang tetap berakhir di TPA atau mencemari lingkungan.
Artikel Terkait
Rosela: Dari Halaman Rumah ke Cangkir Teh, Sederhana Tapi Kaya Manfaat
Malam Pergantian Tahun, Pemuda Bogor Gelar Estafet Dakwah
Potongan Gaji untuk Gaji Pejabat: Saat Pajak Bicara dengan Nama Baru
Kejujuran: Modal Terakhir Indonesia Menuju Keadilan Sejati