Iran Perkuat Armada Drone, AS Siagakan Pasukan di Ambang Ketegangan

- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:00 WIB
Iran Perkuat Armada Drone, AS Siagakan Pasukan di Ambang Ketegangan

Militer AS Siap Bergerak, Iran Perkuat Drone

Laporan dari Pentagon menyebutkan pasukan Amerika Serikat sudah berada dalam posisi siaga. Pete Hegseth, sang Kepala Pentagon, secara terbuka menyatakan kesiapan itu dalam sebuah rapat kabinet dengan Presiden Donald Trump. Intinya, militer siap menjalankan perintah apa pun dari komandan tertinggi.

Termasuk, jika nantinya diperintahkan untuk menyerang Iran.

“Mereka seharusnya tidak mengembangkan senjata nuklir. Kami akan siap memenuhi apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang,” ujar Hegseth.

Istilah ‘Departemen Perang’ itu sendiri adalah sebutan tidak resmi yang kerap dipakai pemerintahan Trump untuk Departemen Pertahanan. Laporannya jelas: kekuatan militer AS yang besar sudah berkumpul di kawasan Timur Tengah, tidak jauh dari perbatasan Iran.

Meski begitu, menurut sejumlah pejabat, Trump sendiri masih mempertimbangkan berbagai opsi. Belum ada keputusan final untuk melancarkan serangan.

Ketegangan antara Washington dan Teheran memang sedang memanas. Pemicu utamanya adalah penindasan keras terhadap gelombang protes di Iran beberapa pekan terakhir. Trump berulang kali mengancam akan turun tangan jika pembunuhan terhadap demonstran terus berlanjut, meski unjuk rasa itu sendiri kini sudah mereda.

Ancaman lain datang dari program nuklir Iran. Presiden AS itu menegaskan akan mengambil tindakan jika Teheran melanjutkan pengembangannya, menyusul serangan udara gabungan AS-Israel pada Juni 2025 terhadap fasilitas nuklir utama Iran.

Di sisi lain, Iran tampaknya tidak tinggal diam. Menghadapi situasi yang sudah di ambang perang, angkatan bersenjata mereka baru saja menerima tambahan sekitar seribu unit drone atau UAV baru. Alutsista ini dibagikan ke berbagai cabang militer.

“Sesuai dengan ancaman yang ada, Angkatan Darat mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategisnya untuk pertempuran cepat. Kami siap memberi respons yang menghancurkan terhadap setiap agresor,” tegas Panglima Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Amir Hatami.

Menurut laporan media dalam negeri Iran, drone-drone terbaru ini dikembangkan oleh spesialis militer bersama Kementerian Pertahanan. Desainnya terinspirasi dari pelajaran perang singkat 12 hari di bulan Juni 2025 lalu.

“UAV telah dirancang dalam berbagai kategori: destruktif, ofensif, pengintaian, dan perang elektronik. Mereka punya kemampuan untuk menargetkan sasaran tetap maupun bergerak di darat, laut, dan udara,” begitu bunyi laporan tersebut.

Peringatan yang lebih keras datang dari juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia. Dia menyiarkan peringatan melalui televisi pemerintah bahwa respons Iran kali ini tidak akan sama dengan tahun lalu.

"Kapal induk AS memiliki kerentanan serius. Banyak pangkalan Amerika di kawasan Teluk juga berada dalam jangkauan rudal jarak menengah kami," katanya.

Dia menambahkan, jika AS sampai melakukan kesalahan perhitungan, skenarionya tidak akan seperti yang mungkin dibayangkan Trump.

"Tidak akan semudah operasi kilat, lalu dua jam kemudian mengetwit bahwa semuanya sudah selesai. Respons kami akan diberikan secara instan dan tegas," pungkas Akraminia.

Suasana di kawasan itu kini seperti biduk di tepian jurang. Satu sisi sudah siap dengan kekuatan tempurnya, sisi lain memperkuat diri dengan senjata buatan sendiri. Tunggu saja langkah selanjutnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar