Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil mencatatkan penguatan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, ditopang oleh sentimen positif dari prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.695 per dolar AS berdasarkan data Yahoo Finance pada Senin, 15 Juni 2026, melonjak 221 poin atau setara 1,23 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.916 per dolar AS.
Sementara itu, mengacu pada data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.708,5 per dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 151,5 poin atau 0,85 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.860 per dolar AS. Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat penguatan, dengan rupiah berada di posisi Rp17.719 per dolar AS, naik 202 poin dari level Rp17.921 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada sore hari ini mencapai 151,5 poin, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 185 poin di level Rp17.708,5 per dolar AS. Menurut dia, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran yang mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan akan membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz.
AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang, sebagaimana disampaikan Perdana Menteri Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan diakhiri. Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa draf kesepakatan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran.
"Investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut," papar Ibrahim. Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak konflik menutup Selat Hormuz, titik penting bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, selama lebih dari tiga bulan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari. Di sisi lain, negara-negara E4 yang meliputi Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai tanggapan atas langkah-langkah terkait program nuklirnya.
Minggu ini, perhatian pasar akan tertuju pada pengumuman kebijakan terbaru dari beberapa bank sentral, dengan fokus utama pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang pertama kali dipimpin oleh Ketua barunya Kevin Warsh. Bank sentral seperti Reserve Bank of Australia dan European Central Bank telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin selama tahun ini. Namun, penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand, Bank of England, dan Federal Reserve, untuk memperketat kebijakan.
Dari sisi domestik, Ibrahim mengungkapkan bahwa turunnya harga minyak mentah dunia di bawah 80 dolar AS per barel menjadi faktor positif karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pasar juga mencermati potensi efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50 persen.
"Dengan kondisi global yang kembali stabil, masyarakat berbondong-bondong menjual valuta asingnya sesuai dengan instruksi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang mengimbau masyarakat yang menyimpan dolar AS agar segera menjual atau menukarkannya menjadi rupiah," jelas Ibrahim. Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp18.200 per dolar AS.
Fokus pasar selanjutnya beralih ke pertemuan kebijakan Bank Indonesia akhir pekan ini. BI telah mengambil langkah pengetatan lanjutan pada 9 Juni 2026 dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, menjadikan total kenaikan sejak Mei mencapai 75 basis poin. "Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan keluarnya arus modal asing," urai Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali menguat. "Untuk perdagangan Rabu (Selasa libur Tahun Baru Islam), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.650 per USD hingga Rp17.700 per USD," jelas Ibrahim.
Artikel Terkait
Mahasiswa Bubarkan Diri dari Depan Gedung DPR, Situasi Kembali Kondusif
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah, Tiga Provinsi Siaga Hujan Lebat
Wali Kota Bogor Teken Aturan Larangan Angkot Berusia di Atas 20 Tahun Beroperasi
Kimia Farma Bangun Ekosistem Kesehatan Terintegrasi untuk Lansia, Bidik Potensi Ekonomi Rp700 Triliun pada 2045