Zeitenwende: Jerman Bangkitkan Kembali Raksasa Militer di Tengah Keretakan NATO

- Selasa, 20 Januari 2026 | 13:00 WIB
Zeitenwende: Jerman Bangkitkan Kembali Raksasa Militer di Tengah Keretakan NATO

Eropa sedang berubah. Setelah puluhan tahun nyaman berlindung di bawah sayap Amerika Serikat, benua biru itu kini seperti tersentak kaget. Realitas pahit menghantam: keamanan mereka tak bisa selamanya digantungkan pada janji sekutu di seberang samudera. Yang kita saksikan sekarang adalah perlombaan senjata paling serius sejak Tembok Berlin runtuh.

Di garis terdepan perubahan ini, ada Jerman. Sejak awal 2026, setiap pemuda yang genap berusia 18 tahun akan menerima kuesioner wajib. Isinya menanyakan kesiapan mereka untuk dinas militer. Memang masih bersifat sukarela, tapi langkah hukum ini bukan main-main. Ini adalah fondasi ambisi besar Kanselir Friedrich Merz.

Targetnya jelas: membangun angkatan darat konvensional terkuat di seluruh Eropa.

Bundeswehr, nama angkatan bersenjatanya, ditargetkan punya 260.000 personel aktif plus 200.000 cadangan pada 2035. Angka itu menyamai kekuatannya di puncak Perang Dingin. Sebuah kebangkitan untuk 'raksasa tidur'.

Lalu, apa yang memicu perubahan drastis ini? Jawabannya kompleks, tapi satu pemicu utamanya adalah kekecewaan terhadap Amerika Serikat. Sentimen ini memuncak di era kebijakan "nativistik" Presiden Donald Trump, yang dianggap banyak pihak di Brussels merendahkan mereka.

Survei terbaru menyebutkan 84% warga Jerman sudah tak yakin AS akan menjamin keamanan mereka. Keretakan diplomatik ini begitu dalam, sampai-sampai Eropa serius memikirkan konsep "NATO Eropa" yang mandiri dari Washington.

Di sisi lain, ancaman dari Timur terasa semakin nyata dan dekat. Rusia, dengan ekonomi yang sepenuhnya beralih ke mode perang, punya keunggulan jumlah personel berpengalaman tempur dan produksi amunisi yang melimpah. Mereka juga telah memperkuat armada drone serta sistem pertahanan udaranya.

Negeri-negeri Eropa mungkin punya PDB gabungan yang lebih besar dan teknologi canggih. Tapi masalahnya, kekuatan mereka terpecah-pecah oleh ego nasional dan sistem senjata yang berbeda-beda. Tanpa logistik dan intelijen satelit AS, mobilisasi cepat dalam skala besar masih jadi tantangan berat.

Namun begitu, langkah Jerman mulai mengubah kalkulasi itu. Anggaran pertahanannya melonjak fantastis, mencapai 108 miliar euro tahun ini. Itu setara dengan 2,5% PDB mereka. Merz bahkan berencana mendorongnya hingga 3,5% pada 2030. Uang segitu bukan untuk main-main.

"Kami tidak bisa lagi hanya menjadi raksasa ekonomi yang kerdil secara militer," kira-kira begitu semangat yang digaungkan Merz. Perang di Ukraina jadi titik balik yang menyadarkan semua orang. Stabilitas, ternyata, butuh kekuatan yang mampu menciptakan efek jera.

Ambisi "Angkatan Darat Terkuat di Eropa" itu mencakup segalanya. Modernisasi total tank Leopard 2, penguasaan sistem pertahanan udara jarak jauh, hingga integrasi kecerdasan buatan dalam komando tempur. Tujuannya, menjadikan Bundeswehr tulang punggung operasional NATO di daratan Eropa.

Langkah masif Jerman ini tentu bikin Moskow tak nyaman. Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, bahkan berkomentar pedas.

Menurutnya, Jerman tengah mempercepat persiapan untuk konfrontasi militer skala penuh.

Tapi bagi banyak warga Jerman, ini soal bertahan hidup. Delapan dari sepuluh orang di sana yakin Vladimir Putin tidak berniat damai. Mereka khawatir perang akan meluas ke negara NATO lain sekitar tahun 2029. Dalam bayangan ancaman seperti itu, transformasi militer bukan lagi pilihan politik. Ini sudah jadi perjuangan eksistensial.

Jejak Sejarah yang Panjang dan Kelam

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Jerman membangun kekuatan militer besar. Jejaknya bisa dilacak jauh ke belakang. Pada Perang Dunia I, mereka sudah jadi kekuatan darat paling ditakuti di dunia. Doktrinnya terorganisir dengan efisiensi mengerikan, didukung industri baja dan artileri berat buatan Krupp yang menghancurkan benteng-benteng Eropa.

Mereka juga menantang Inggris di lautan dengan armada kapal selam U-Boat, sebuah terobosan yang mengubah peperangan laut selamanya.

Tapi kekalahan dalam PD I menghancurkan mereka. Perjanjian Versailles memangkas militer Jerman hingga tinggal 100.000 personel, tanpa tank atau pesawat. Ekonomi hancur oleh hiperinflasi. Keadaan kacau ini, sayangnya, jadi lahan subur bagi ideologi radikal untuk bangkit.

Dan bangkitlah mereka di era Nazi. Dengan doktrin Blitzkrieg atau 'perang kilat', Jerman menggabungkan serangan tank, infanteri bermotor, dan dukungan udara. Hasilnya mencengangkan: Polandia dan Prancis takluk hanya dalam hitungan minggu.

Teknologi mereka pun melompat jauh. Mereka menciptakan roket balistik V-2 dan pesawat jet tempur operasional pertama, Me 262. Tank Tiger dan Panther jadi momok di medan perang. Singkatnya, Jerman saat itu memimpin perlombaan teknologi militer.

p>Namun, kekuatan besar itu lagi-lagi hancur. Perang di dua front menggerus sumber daya mereka. Kekalahan di Stalingrad dan pendaratan Sekutu di Normandia menjadi awal akhir. Pada Mei 1945, Jerman menyerah tanpa syarat. Kondisinya lebih parah dari sebelumnya: negara terbelah, kota-kota rata dengan tanah.

Pasca 1945, Jerman mengalami demiliterisasi total. Mereka dilarang punya angkatan bersenjata. Fokusnya beralih sepenuhnya ke pembangunan ekonomi, yang sukses mereka raih dengan 'Keajaiban Ekonomi' atau Wirtschaftswunder. Mereka jadi raksasa ekonomi, tapi kerdil secara militer.

Bahkan setelah Bundeswehr dibentuk tahun 1955 sebagai bagian NATO, sifatnya sangat terbatas dan dikontrol ketat. Budaya pasifisme mengakar kuat sebagai penebusan dosa masa lalu. Hingga awal 2020-an, militer Jerman masih dikritik karena peralatan usang dan kurang investasi.

Semuanya berubah total pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina menjadi pukulan keras yang membangunkan Jerman dari tidur panjangnya. Momen itu disebut Zeitenwende, titik balik zaman.

Di bawah kepemimpinan Olaf Scholz lalu Friedrich Merz, Jerman mulai membuang jauh-jauh pasifisme lamanya. Mereka sadar, kemakmuran ekonomi tak berarti tanpa pertahanan yang kuat. Kini, dengan anggaran rekor 108 miliar euro, mereka bukan lagi negara yang takut pada kekuatan militernya sendiri.

Mereka berambisi memimpin. Inovasi teknologi yang dulu jadi andalan dihidupkan kembali dalam bentuk sistem senjata digital, pertahanan siber, dan tank generasi terbaru.

Jadi, inilah siklus sejarah Jerman yang luar biasa: dari pusat militerisme dunia, hancur total, lalu menjadi pasifis tulen, dan kini bangkit kembali sebagai benteng pertahanan Eropa. Bedanya, kali ini kebangkitannya bukan untuk agresi. Ini murni respons atas dunia yang berubah cepat, ancaman yang nyata, dan kepercayaan pada sekutu lama yang mulai luntur. Era baru telah dimulai.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar