Eropa sedang berubah. Setelah puluhan tahun nyaman berlindung di bawah sayap Amerika Serikat, benua biru itu kini seperti tersentak kaget. Realitas pahit menghantam: keamanan mereka tak bisa selamanya digantungkan pada janji sekutu di seberang samudera. Yang kita saksikan sekarang adalah perlombaan senjata paling serius sejak Tembok Berlin runtuh.
Di garis terdepan perubahan ini, ada Jerman. Sejak awal 2026, setiap pemuda yang genap berusia 18 tahun akan menerima kuesioner wajib. Isinya menanyakan kesiapan mereka untuk dinas militer. Memang masih bersifat sukarela, tapi langkah hukum ini bukan main-main. Ini adalah fondasi ambisi besar Kanselir Friedrich Merz.
Targetnya jelas: membangun angkatan darat konvensional terkuat di seluruh Eropa.
Bundeswehr, nama angkatan bersenjatanya, ditargetkan punya 260.000 personel aktif plus 200.000 cadangan pada 2035. Angka itu menyamai kekuatannya di puncak Perang Dingin. Sebuah kebangkitan untuk 'raksasa tidur'.
Lalu, apa yang memicu perubahan drastis ini? Jawabannya kompleks, tapi satu pemicu utamanya adalah kekecewaan terhadap Amerika Serikat. Sentimen ini memuncak di era kebijakan "nativistik" Presiden Donald Trump, yang dianggap banyak pihak di Brussels merendahkan mereka.
Survei terbaru menyebutkan 84% warga Jerman sudah tak yakin AS akan menjamin keamanan mereka. Keretakan diplomatik ini begitu dalam, sampai-sampai Eropa serius memikirkan konsep "NATO Eropa" yang mandiri dari Washington.
Di sisi lain, ancaman dari Timur terasa semakin nyata dan dekat. Rusia, dengan ekonomi yang sepenuhnya beralih ke mode perang, punya keunggulan jumlah personel berpengalaman tempur dan produksi amunisi yang melimpah. Mereka juga telah memperkuat armada drone serta sistem pertahanan udaranya.
Negeri-negeri Eropa mungkin punya PDB gabungan yang lebih besar dan teknologi canggih. Tapi masalahnya, kekuatan mereka terpecah-pecah oleh ego nasional dan sistem senjata yang berbeda-beda. Tanpa logistik dan intelijen satelit AS, mobilisasi cepat dalam skala besar masih jadi tantangan berat.
Namun begitu, langkah Jerman mulai mengubah kalkulasi itu. Anggaran pertahanannya melonjak fantastis, mencapai 108 miliar euro tahun ini. Itu setara dengan 2,5% PDB mereka. Merz bahkan berencana mendorongnya hingga 3,5% pada 2030. Uang segitu bukan untuk main-main.
"Kami tidak bisa lagi hanya menjadi raksasa ekonomi yang kerdil secara militer," kira-kira begitu semangat yang digaungkan Merz. Perang di Ukraina jadi titik balik yang menyadarkan semua orang. Stabilitas, ternyata, butuh kekuatan yang mampu menciptakan efek jera.
Ambisi "Angkatan Darat Terkuat di Eropa" itu mencakup segalanya. Modernisasi total tank Leopard 2, penguasaan sistem pertahanan udara jarak jauh, hingga integrasi kecerdasan buatan dalam komando tempur. Tujuannya, menjadikan Bundeswehr tulang punggung operasional NATO di daratan Eropa.
Langkah masif Jerman ini tentu bikin Moskow tak nyaman. Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, bahkan berkomentar pedas.
Menurutnya, Jerman tengah mempercepat persiapan untuk konfrontasi militer skala penuh.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer