Transformasi Ibadah di Era Digital: Antara Simulasi dan Esensi
Teknologi kini telah merambah ranah paling privat dalam kehidupan manusia: keberagamaan. Dari simulasi digital hingga konversi pahala menjadi materi nyata, teknologi menawarkan cara-cara baru dalam beribadah yang menggugat tradisi.
Aktivitas keagamaan yang sebelumnya mensyaratkan kehadiran fisik di ruang dan waktu tertentu, kini dapat digantikan oleh simulasi di ruang ibadah virtual. Bahkan niat, ketaatan, dan kepedulian telah terkonversi melalui aplikasi berbasis kecerdasan buatan menjadi material pahala yang terukur.
Dakwah di Dunia Maya
Sebuah penelitian terbaru mengungkap fenomena pengajian virtual melalui platform game Roblox. Inisiatif yang digagas Majelis Roblox Indonesia (MARIO) ini mengirimkan avatar pemain ke arena yang disimulasikan serupa masjid, tempat pengajian berlangsung layaknya di dunia nyata.
Inovasi ini mendapat sambutan positif karena dinilai mampu memenuhi kebutuhan informasi agama sekaligus mempraktikkan ibadah. Pengajian virtual disebutkan dapat menjadi alternatif medium dakwah baru di masa depan.
Bagi generasi digital, simulasi ini menawarkan solusi pragmatis: keseriusan menghayati informasi agama dapat terpelihara tanpa perlu meninggalkan perangkat game. Setidaknya, ini mengurangi rasa bersalah karena banyak menghabiskan waktu di arena permainan.
Kritik atas Pengalaman Spiritual Virtual
Namun, para peneliti mengingatkan bahaya kaburnya realitas beragama dalam praktik semacam ini. Yang hadir dalam ruang virtual bukan tubuh fisik, melainkan avatar. Pengalaman spiritual tidak sepenuhnya terasa melalui kehadiran fisik dalam ruang dan suasana yang nyata.
Konsekuensinya, logika simulasi dapat menggeser esensi praktik keagamaan. Representasi digital sebagai simulasi ritual agama menjadi lebih dominan dibandingkan pengalaman spiritual yang otentik. Bukan ibadah yang dilakukan, melainkan sekadar kesan beribadah.
Materialisasi Pahala dalam Fiksi dan Realita
Pertanyaan mendasar muncul: akankah umat beragama menjadi lebih taat jika pahala dapat dimaterialisasi secara nyata? Serial Netflix "Tomorrow and I" yang tayang sejak Desember 2024 mengeksplorasi pertanyaan ini melalui episode "Buddha Data".
Episode tersebut menceritakan seorang biksu Buddha bernama Anek, mantan programer yang menghadapi dilema ketika aplikasi bernama ULTRA muncul. Aplikasi berbasis AI ini tidak hanya berisi ajaran agama, tetapi juga mencatat poin kebaikan yang dapat ditukarkan untuk kebutuhan praktis seperti membayar tagihan listrik.
Euforia pun menyebar. Warga kota menjadi keranjingan berbuat baik, namun dengan pertimbangan pragmatis: besaran poin yang akan diterima. Memberi makan orang biasa yang kelaparan menghasilkan poin lebih tinggi daripada memberi makan seorang biksu.
Respon Teknologi terhadap Problematika Teknologi
Anek merespons dengan menciptakan iBuddha, perangkat berisi salinan memori para biksu berikut ajarannya. Tujuannya mulia: mengoreksi kelemahan ULTRA dan membuat ajaran agama dapat diakses kapan saja.
Namun upaya ini gagal karena teknologi belum mampu memilah memori baik dan buruk dari para biksu. Masa lalu kelam para biksu yang seharusnya tersaring justru terbuka untuk diakses pengguna.
Masa Depan Keberagamaan Berbasis AI
Para ahli memprediksi agama berbasis AI akan membawa perubahan fundamental. Neil McArthur dalam tulisannya menyebutkan tiga karakteristik utama: pertama, manusia dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan setiap saat tanpa hierarki agama.
Kedua, para pengikut akan terhubung secara online untuk berbagi pengalaman dan mendiskusikan doktrin. Ketiga, keragaman chatbot dari produsen berbeda akan menghasilkan doktrin kebenaran yang sangat beragam.
Dampaknya dapat diprediksi: keragaman aplikasi berbasis AI dengan doktrin berbeda-beda berpotensi memicu perselisihan antar sekte. Agama yang seharusnya menjadi penuntun hidup baik justru berpotensi menyebabkan konflik.
Pertanyaan terakhir menggantung: akankah teknologi membawa keberagamaan pada esensinya, atau justru mereduksinya menjadi sekadar pemburu kepentingan pragmatis belaka?
Artikel Terkait
AHY Dorong Pembangunan Creative Hub di Setiap Kota
Tabrakan Dua Bus Transjakarta Koridor 13, 23 Penumpang Terluka
Menag Laporkan Penggunaan Jet Pribadi OSO ke KPK
Harga BBM Pertamina hingga Shell Tetap Stabil Sejak Awal Februari