murianetwork.com - Addis Ababa - Lebih dari 200 orang mati kelaparan sejak Juli 2023 di Kota Edaga Arbi, Tigray, Ethiopia, yang dilanda kekeringan dan perang. Hal tersebut dikonfirmasi pemerintah setempat.
Sementara itu, 16 orang lainnya tewas di Kota Adwa yang berdekatan. Para pejabat di Tigray memperingatkan wilayah tersebut berada di ambang kelaparan dalam skala yang terakhir terjadi pada tahun 1984, yang mendorong diadakannya acara musik penggalangan dana global Live Aid pada tahun berikutnya. Namun, kelaparan adalah kata yang sangat sensitif di Ethiopia.
Baca Juga: Ari Maring Penuhi Janji, Jadi Topskor Sementara PSIM
Pemerintah pusat di Addis Ababa menyangkal bencana kelaparan yang akan terjadi dan menyatakan pihaknya berupaya memberikan bantuan. Adapun para petugas medis dan aktivis kemanusiaan mengatakan bantuan tidak datang dengan cepat, sehingga membuat mereka tidak berdaya menyelamatkan nyawa.
"Sebagai seorang dokter, saya menyaksikan kematian tanpa henti. Memiliki pengetahuan dan keterampilan tetapi tidak memiliki sarana untuk membantu masyarakat adalah hal yang sia-sia," kata Desta Kahsay di Kota Shire kepada BBC, seperti dilansir Kamis (18/1/2024).
Baca Juga: Rayuan Maut Gus Iqdam untuk Ning Nila, Ukhti-ukhti Jangan Iri
Dia menggambarkan peristiwa ini bak "kiamat", di mana orang-orang mati sia-sia karena sebab-sebab yang sebenarnya bisa dicegah. Banyak dari mereka yang meninggal adalah anak-anak dan remaja. (*)
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: krjogja.com
Artikel Terkait
Citra Satelit Ungkap Kerusakan di Pangkalan Udara Ramat David Usai Serangan Rudal Balistik Iran
Tiga Guru Besar Kedokteran Siap Jadi Saksi Ahli untuk Dokter Tifa di Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Iran Tuding AS-Israel Ciptakan Perpecahan, Negara Teluk Kutuk Serangan Rudal ke Kuwait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS