Menurut politisi Fraksi PKB ini, kasus di Pati membuktikan reformasi birokrasi di daerah masih bermasalah serius soal integritas. Begitu pula dengan dugaan korupsi dana CSR di Madiun. Uang yang seharusnya untuk masyarakat, malah dikorupsi.
“Praktik jual beli jabatan dan pemotongan fee proyek itu penyakit lama. Rantainya harus diputus,” lanjutnya.
Logikanya sederhana tapi mengerikan: jika rekrutmen pejabat diawali suap, jangan harap birokrasi di bawahnya bisa profesional.
Karena itu, Toha mendesak Kementerian Dalam Negeri untuk lebih ketat mengawasi dan membina para kepala daerah. Ia juga mendukung penuh langkah KPK. Pemberantasan korupsi harus tanpa pandang bulu jika ingin pemerintahan yang bersih benar-benar terwujud.
“Kami dukung langkah KPK. Ini peringatan untuk semua: radar pengawasan tidak pernah tidur. Fokuslah bekerja untuk rakyat, bukan cari celah korupsi,” tutup Toha.
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar