"Anak perlu belajar strategi hidup dari pengalaman, bukan hanya teori," katanya lagi.
Pemikirannya ini juga ia terapkan dalam hal pertemanan. Acha mengajarkan anaknya untuk tidak memaksakan hubungan yang tidak sehat. Mengenali batas diri, dan belajar menghargai sebuah penolakan, adalah keterampilan hidup yang krusial sejak dini.
Pada akhirnya, setiap anak punya identitasnya sendiri. Pilihan hidupnya sendiri. Peran orang tua, dalam pandangan Acha, adalah mendampingi. Bukan mengendalikan. Filosofi ini ternyata juga ia temukan ketika membintangi film Titip Bunda di Surgamu. Di film itu, ia memerankan Alya, seorang anak pertama yang tumbuh tanpa ruang untuk berbicara di keluarganya sendiri.
"Tidak punya suara dalam keluarga bisa meninggalkan luka yang sangat dalam," ungkapnya.
Luka yang dipendam sejak kecil, menurutnya, bisa terbawa hingga dewasa kalau tidak pernah dikomunikasikan. Itulah pesan kuat yang ingin ia sampaikan lewat film tersebut. Kini, Acha bersyukur. Komunikasi dengan anaknya terbuka. Ia berharap pengalaman pahit masa lalunya bisa berubah jadi pelajaran, bukan warisan luka untuk generasi berikutnya.
Jadi, siapa Acha Septriasa sekarang? Lebih dari sekadar aktris papan atas. Ia adalah sosok ibu yang reflektif, yang dengan berani membongkar memori masa kecil untuk menata pola asuh yang lebih sehat. Kisahnya terasa manusiawi. Dan justru karena itu, sangat relevan untuk kita semua.
Artikel Terkait
Fuji Berjuang Menahan Duka di Tengah Duka Lula Lahfah
Boiyen Ajukan Cerai, Vincent Rompies Sudah Tahu Bakal Begini
Tawa dan Kebingungan Ammar Zoni Saat Saksi Ungkap Pohon Narkoba di Rutan
Ammar Zoni Berdzikir dengan Tasbih di Tengah Sidang Narkoba