Tekanan Ekonomi Picu Lonjakan Kasus Depresi di Ibu Kota

- Minggu, 23 November 2025 | 05:10 WIB
Tekanan Ekonomi Picu Lonjakan Kasus Depresi di Ibu Kota
Gaya Penulisan Manusia

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jakarta baru saja mengungkap sebuah fakta yang cukup mengkhawatirkan. Dari 365.730 orang dewasa dan lansia yang menjalani skrining kesehatan jiwa, sekitar 3%-nya atau tepatnya 10.973 orang, menunjukkan gejala depresi. Angka ini jadi sorotan, apalagi ketika dirinci lebih lanjut.

Wakil Ketua DPRD DKI, Wibi Andrino, punya pandangannya sendiri. Menurutnya, tekanan ekonomi adalah biang kerok utama yang bikin warga tertekan.

"Dari sudut pandang saya mungkin salah satu penyebab utama warganya terindikasi depresi adalah kombinasi tekanan ekonomi, termasuk biaya hidup tinggi dan keuangan rumah tangga yang menekan," ujar Wibi, Minggu (23/11/2025).

Di sisi lain, dia juga menyinggung soal persoalan klasik: stigma. Banyak orang masih menganggap remeh masalah kesehatan jiwa. Enggan memeriksakan diri, atau bahkan merasa tabu untuk membicarakannya.

"Yang kedua, kurangnya akses atau kesadaran terhadap layanan kesehatan jiwa serta stigma sosial yang masih kuat," tambahnya.

Melihat kondisi ini, Wibi mendorong Pemprov DKI untuk tak tinggal diam. Dia menyarankan agar program deteksi dini dan skrining diperkuat. Layanan konseling gratis perlu diperbanyak, sementara kampanye edukasi publik harus gencar dilakukan untuk mematahkan stigma yang telanjur melekat.

"Serta mendorong rujukan ke layanan profesional bila ditemukan gejala," tegasnya.

Sebelumnya, Yunita Arihandayani dari Kemenkes juga sudah mengingatkan soal ini. Dalam seminar daring bertema 'Merawat Kesehatan Mental Ibu sebagai Pilar Ketahanan Keluarga', Jumat (21/11), dia membeberkan data yang cukup mencengangkan.

Angka depresi di Jakarta ternyata sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional. Kalau nasional 1,4%, Jakarta ada di 1,5% untuk penduduk di atas 15 tahun. Memang selisihnya tipis, tapi ini tetap perlu jadi perhatian.

"Mohon warga DKI Jakarta bisa melakukan CKG dan termasuk mengisi skrining kesehatan jiwanya," pesan Yunita, seperti dilansir Antara, Sabtu (22/11/2025).

Jadi, intinya, masalah kesehatan jiwa ini bukan hal sepele. Butuh perhatian serius dari banyak pihak, dan tentu saja, kesadaran dari kita semua untuk mulai peduli.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar