"Terima kasih buat VMS, Bu Shalu, dan Pak Tony yang sudah membujuk saya sampai lima kali sampai akhirnya saya yakin memainkan Nadia," kata Aghniny, mengakui usaha mereka.
Setelah bolak-balik mikir, akhirnya dia memutuskan untuk berubah haluan. Rasa takut itu dia cubit, diubah jadi bahan bakar. "Daripada takut, akhirnya aku harus mensyukuri dan menjadikan karakter Nadia adalah new challenge buat aku. Ternyata yes, aku bisa melewati itu," imbuhnya dengan senyum lega.
Pendalaman Karakter dari Sisi Psikologis
Begitu komitmen diberikan, Aghniny terjun total. Untuk memerankan sosok manipulatif tapi rapuh seperti Nadia, dia nggak cuma mengandalkan naskah. Observasi mendalam dia lakukan, dengan berdiskusi intens bersama sutradara Benni Setiawan. Fokusnya adalah menyelami psikologi seorang istri yang nekad bertahan dalam hubungan penuh kebohongan.
"Observasinya berangkat dari sisi psikologis Nadia tersendiri dan juga ketakutannya dia akan kehilangan Deva," jelas Aghniny. "Nadia menjadi destruktif karena dia bertahan di hubungan yang sangat toksik."
Melalui perjalanan berat ini, Aghniny punya harapan untuk penontonnya. Khususnya para perempuan. Dia berharap film "Penerbangan Terakhir" bisa jadi pelajaran, agar perempuan berani bersuara dan keluar dari jerat hubungan yang manipulatif.
"Semoga film ini bisa menjadi inspirasi agar tidak ada lagi 'Tiara-Tiara' atau 'Nadia-Nadia' berikutnya yang terjebak dalam hubungan seperti ini," pungkasnya mantap.
Film "Penerbangan Terakhir" sendiri rencananya bakal tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026. Selain Aghniny Haque dan Jerome Kurnia, film ini juga dibintangi oleh Nadya Arina.
Artikel Terkait
Aurelie Moeremans Buka Luka Lama: Kisah Grooming di Balik Buku Broken Strings
Prilly Latuconsina Syok Baca Naskah, Kepala Putus dan Terkunci Peti Mati di Film Terakhir Danur
Akhir Perjalanan Risa: Danur Tutup Babak dengan Tayang IMAX Lebaran 2026
Dari Gawang ke Layar Lebar: Perjalanan Tak Terduga Oki Rengga