Dunia hiburan Indonesia lagi-lagi gempar. Kali ini, sorotan tajam mengarah ke Pandji Pragiwaksono. Namanya mendadak jadi perbincangan hangat di linimasa media sosial, terutama setelah pertunjukan spesialnya, Mens Rea, sukses mencuri perhatian. Tapi, pujian itu kini berbaur dengan masalah serius. Kabarnya, komika satu ini malah berurusan dengan polisi gara-gara materi lawakannya dianggap memicu kegaduhan.
Sebagai sosok yang sudah lama berkecimpung di berbagai bidang mulai dari komedi, penyiaran radio, presenter, sampai penulis Pandji memang dikenal tak segan menyentuh isu-isu yang kadang sensitif. Gayanya blak-blakan, materinya sering mengupas persoalan sosial dan budaya dengan cara yang provokatif.
Mengulik sedikit soal latar belakangnya, Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo lahir di Singapura, 18 Juni 1979. Ia adalah anak dari pasangan Koes Pratomo Wongsoyudo dan Siti Khadijah Hassni, dibesarkan dalam keluarga Muslim. Dalam kehidupan pribadi, pria bertinggi 179 cm ini menikah dengan Gamila Mustika Burhan atau Gamila Arief. Mereka dikaruniai dua anak: Wadilla Dipo Wongsoyudo dan Ourania Almashira Wongsoyudo.
Lulusan Desain Produk Industri ITB ini, menurut banyak pengamat, punya cara pandang yang khas. Latar belakang pendidikannya di kampus teknik ternama itu sering terlihat mempengaruhi analisisnya terhadap isu global, demokrasi, dan dinamika masyarakat semua itu kemudian ia tuangkan dalam karya-karyanya.
Namun, sebelum tenar sebagai komika, jalan kariernya berawal dari dunia radio. Tahun 2001, Pandji mulai menjadi penyiar di Hard Rock FM Bandung, berduet dengan Tike Priatnakusumah sampai 2003. Setelah pindah ke Jakarta, ia tetap setia di Hard Rock FM selama tujuh tahun berikutnya. Kolaborasinya dengan Steny Agustaf saat itu bikin namanya makin dikenal.
Dari radio, ia merambah televisi. Wajahnya mulai sering muncul di berbagai acara hiburan dan talk show. Tapi, namanya benar-benar melambung setelah memandu reality show "Kena Deh" yang populer di Trans7, lalu ditayangkan ulang di ANTV sekitar 2008. Ia juga sempat membawakan game show "Hole in the Wall" di RCTI (2007-2008) dan jadi presenter siaran langsung NBA di Jak TV.
Di sisi lain, Pandji ternyata pernah mencoba dunia musik. Beberapa lagu rap seperti “Lagu Melayu” dan “Lagu Putus” pernah ia rilis. Tapi, titik balik utamanya justru terjadi ketika ia fokus ke stand up comedy. Dialah salah satu pelopor yang membawa komedi observasional bernuansa kritik sosial ke panggung Indonesia.
Reputasinya kian solid lewat sederet pertunjukan tunggal berskala besar. Beberapa judulnya, seperti Bhinneka Tunggal Tawa, Mesakke Bangsaku, Pragiwaksono World Tour, dan yang terakhir Mens Rea, semakin menegaskan citranya sebagai komika dengan karakter intelektual dan politis yang kuat.
Artikel Terkait
Inara Rusli Terpisah dari Anak, Mertua Beri Syarat Tegas
Haru dan Bahagia Warnai Siraman Darma Mangkuluhur, Cucu Soeharto
Sakina Tama: Jejak Karier Mandiri di Balik Sorotan Sang Ayah
Gugatan Rp7 Miliar Ressa ke Denada, Psikologis Penggugat Dikabarkan Terganggu