Sheila Marcia Bongkar Luka Masa Lalu: Dari Titik Nadir Menuju Kebangkitan

- Selasa, 30 Desember 2025 | 19:45 WIB
Sheila Marcia Bongkar Luka Masa Lalu: Dari Titik Nadir Menuju Kebangkitan

Dalam sebuah sesi wawancara yang cukup intim di kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, Sheila Marcia akhirnya berbicara. Ia membongkar perjalanan hidupnya yang ternyata tak semulus yang banyak orang kira sebuah narasi penuh luka dan pergulatan batin yang ia simpan lama.

Dengan jujur, Sheila mengungkap fase paling kelam dalam hidupnya. Ada masa di mana ia benar-benar kehilangan arah, bahkan mempertanyakan makna keberadaannya sendiri. Perasaan itu, menurutnya, sudah mengakar sejak kecil. Ia kerap merasa tidak dicintai, sebuah luka emosional yang terus dibawanya tumbuh dewasa.

"Tuhan, buat apa aku dilahirkan kalau aku cuma untuk diginiin? Kenapa aku enggak mati aja?"

Kalimat itu ia lontarkan dengan berat. Pertanyaan yang muncul dari tumpukan rasa sakit yang tak kunjung usai, katanya.

Tekanan batin itu perlahan membentuknya. Mempengaruhi cara berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan-keputusan penting. Lingkungan dan konflik keluarga disebutnya turut andil, membuatnya memikul beban yang seharusnya tak perlu ditanggung seorang anak. Belum lagi pengalaman perundungan dan rasa haus akan kasih sayang yang justru membawanya mencari pelarian ke tempat yang salah. Semuanya berujung pada satu titik terendah: saat ia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Namun begitu, justru di titik nadir itulah proses refleksi panjangnya dimulai.

"Aku sadar kalau aku nggak bisa terus hidup dengan menyalahkan keadaan," ucap Sheila.

Baginya, titik balik itu datang ketika ia mulai mengenal Tuhan secara personal. Bukan sekadar rutinitas agama, melainkan sebuah hubungan yang memberinya ketenangan batin. Prosesnya tentu tidak instan. Naik turun, maju mundur, tapi perlahan ia belajar menerima masa lalu tanpa harus terus-menerus terjebak di dalamnya.

Kini, sebagai ibu dari Leticia Joseph, Sheila memilih untuk hidup dengan lebih sadar. Ia memaknai setiap luka sebagai bagian dari pendewasaan dirinya. Kebangkitan sejati, menurutnya, bukan soal melupakan apa yang telah terjadi. Tapi lebih tentang berdamai dan tumbuh dari sana.

"Aku belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa keras lukanya, tapi seberapa besar kita mau berubah."

Itulah pelajaran berharga yang ia pegang erat sekarang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar