“Jika ingin daftar maka harus sudah mengetahui kemampuan diri sendiri,” tuturnya.
Rute naik-turun yang curam, katanya, bisa meningkatkan tekanan secara signifikan pada otot dan terutama jantung. Kombinasi kondisi ini rawan memicu cedera, bahkan gagal jantung mendadak.
Sebagai rekomendasi, ia menilai pemeriksaan kesehatan pra-event itu penting. Ini langkah awal untuk menilai kemampuan tubuh secara objektif, bukan cuma mengandalkan perasaan.
Pesan utamanya jelas: jangan pernah meremehkan potensi masalah medis yang bisa muncul tiba-tiba. Keselamatan harus selalu jadi prioritas utama, mengalahkan ambisi untuk sekadar menyelesaikan lomba.
Menurut Tirta, edukasi medis bagi calon peserta adalah kunci untuk mencegah terulangnya kejadian menyedihkan. Pemahaman dasar tentang stamina dan batas tubuh sendiri bisa jadi penyelamat nyawa.
Dunia trail, ditegaskannya, bukan cuma soal fisik yang kuat. Pengetahuan akan risiko dan kesiapan mental juga menentukan apakah seseorang benar-benar siap menghadapi jalur ekstrem.
Di akhir penjelasannya, Dokter Tirta mengajak publik untuk lebih peduli pada kondisi kesehatan sendiri sebelum berkompetisi. Ia berharap tragedi ini bisa menjadi pengingat bagi semua tentang betapa krusialnya kesiapan medis dalam olahraga ekstrem.
“Itu saja dari saya, jangan lupa latihan dan salam sehat,” tutupnya.
Artikel Terkait
BELIFT LAB Tegaskan Heeseung Tak Kembali ke ENHYPEN, Fokus Karier Solo
Pejabat USDA Saksikan Finalis MasterChef Olah Salmon Alaska
Juicy Luicy Manggung Dadakan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
CALMA Rilis Single Spesial Happy Birthday untuk Rayakan Ulang Tahun ke-6 BIG Records Asia