Prilly Latuconsina Tuding Keserakahan di Balik Bencana Sumatra

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:40 WIB
Prilly Latuconsina Tuding Keserakahan di Balik Bencana Sumatra

Bencana di Sumatra, Prilly Latuconsina Soroti Akar Masalah: "Ulah Keserakahan"

Hampir sepekan ini, berita dari Sumatra masih suram. Banjir dan tanah longsor terus menerjang, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ratusan nyawa melayang, ribuan orang harus mengungsi. Situasi yang benar-benar memilukan dan menyita perhatian kita semua.

Di tengah keprihatinan nasional itu, aktris Prilly Latuconsina angkat bicara. Ia tak cuma menyampaikan duka, tapi juga menyoroti hal yang ia anggap sebagai penyebab utama bencana ini.

Bagi Prilly, yang ditemui di kawasan SCBD, Jakarta, pada Kamis lalu, musibah ini bukan semata-mata soal curah hujan tinggi. Ada faktor lain yang jauh lebih mengkhawatirkan. "Tentu nggak dipungkiri musibah yang terjadi di Sumatra sangat-sangat mengkhawatirkan. Makanya aku melihatnya sedih banget sih," ujarnya.

Perasaan sedih itu kemudian berubah menjadi keprihatinan mendalam. Aktris berusia 29 tahun itu memberikan pandangan yang cukup menohok.

Menurut Prilly, bencana alam yang melanda Sumatra erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan yang masif. Ia dengan tegas menyebutnya sebagai buah dari keserakahan manusia.

"Ini adalah musibah yang datang karena keserakahan manusia, di mana banyak hutan yang digunduli demi kelapa sawit dan lain-lain," tegas Prilly tanpa ragu.

Nah, di sisi lain, Prilly nggak cuma berhenti pada kritik. Ia punya ajakan konkret. Ia merasa, edukasi tentang pentingnya menjaga hutan harus lebih digencarkan, dan media sosial bisa jadi alat yang ampuh untuk itu.

"Jadi ya mulai sekarang kita sebagai rakyat Indonesia yang baik kayaknya udah harus mulai mengedukasi di media sosial kita juga, pentingnya menjaga hutan. Menjaga hutan, menjaga pohon," tuturnya.

Namun begitu, upaya dari masyarakat saja tentu belum cukup. Prilly juga berharap ada kesamaan visi dari pihak pemerintah. Ia ingin langkah menjaga lingkungan jadi komitmen bersama, bukan sekadar wacana.

"Harapannya juga pemerintah bisa mempunyai pikiran dan visi yang sama, sama kita rakyat Indonesia yang ingin menjaga hutan dan bumi," tutupnya.

Memang, sejak akhir November lalu, cuaca ekstrem telah menghantam wilayah Sumatra. Curah hujan yang luar biasa tinggi memicu banjir bandang dan longsor di tiga provinsi sekaligus. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara para pengungsi masih berjuang menghadapi trauma dan ketidakpastian. Sebuah tragedi yang, seperti dikatakan Prilly, mungkin bisa kita cegah atau setidaknya kurangi dampaknya jika kita lebih bijak memperlakukan alam.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar