Insiden Keracunan MBG di Bandung Barat: Nitrit Diduga Jadi Pemicu Utama
Sebanyak 201 siswa di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengalami keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi kejadian ini, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Lodewyk Pusung, menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan sistem pengelolaan program secara mendalam.
Lodewyk menyampaikan bahwa investigasi telah dilakukan oleh tim dan kasus ini akan terus dikaji. Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan pengawasan masyarakat terhadap program pemerintah.
Dalam pernyataannya, Lodewyk menyampaikan optimisme dengan keterlibatan aktif TNI dalam program MBG. Ia meyakini bahwa partisipasi TNI akan mempermudah pencapaian target program. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan serta pengawasan dari seluruh lapisan masyarakat untuk mensukseskan program ini dan membangun kembali tradisi gotong royong.
Penyebab Keracunan Massal Menurut Hasil Investigasi BGN
Tim Investigasi Independen BGN berhasil mengungkap penyebab di balik insiden keracunan massal pada program MBG di sejumlah sekolah Desa Cibodas. Berdasarkan hasil rapid test dan uji laboratorium, keracunan dialami siswa disebabkan oleh tingginya kadar nitrit dalam makanan, bukan karena kualitas air yang tidak memenuhi standar.
Titik Temuan Nitrit pada Makanan
Investigasi menemukan kandungan nitrit pada hidangan MBG yang bersumber dari dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG):
SPPG Kayu Ambon: Nitrit terdeteksi pada menu tumis pakcoy yang merupakan sisa makanan di sekolah. Menu lengkap yang disajikan hari itu terdiri dari nasi putih, ayam betutu Bali, tahu goreng, tumis pakcoy bawang putih, dan pisang.
SPPG Cibodas 2: Kandungan nitrit positif ditemukan pada nasi putih, tumis wortel, jagung mini putren, dan kembang kol. Menu MBG di lokasi ini adalah nasi putih, ayam giling bola-bola, tumis wortel, jagung mini putren dan kembang kol, serta buah lengkeng.
Hasil uji laboratorium terhadap air bersih di kedua SPPG tersebut dinyatakan memenuhi standar fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Korelasi Kadar Nitrit dengan Jumlah Korban
Kadar nitrit yang terdeteksi diukur secara kualitatif. Hasil rapid test menunjukkan bahwa kandungan nitrit pada menu dari SPPG Cibodas 2 lebih tinggi dibandingkan dengan SPPG Kayu Ambon. Temuan ini menjadi penjelasan mengapa jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan dari Cibodas 2 lebih banyak, yaitu 236 orang, sementara dari Kayu Ambon sebanyak 44 orang.
Artikel Terkait
Tembok SMP di Kalibata Roboh, Diduga Akibat Kelalaian Perawatan
Anggota DPR Desak Pemerintah Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Israel Kerahkan Pasukan Besar di Al-Aqsa, Palestina Sebut Akan Ada Pembatasan Ketat
Imlek 2026 Jatuh 17 Februari, Ini Makna dan Pilihan Ucapan untuk Rekan Kerja