Teknologi Laser dan Ragam Lensa Tanam Tingkatkan Presisi Operasi Katarak untuk Kualitas Penglihatan Pasien

- Rabu, 20 Mei 2026 | 19:30 WIB
Teknologi Laser dan Ragam Lensa Tanam Tingkatkan Presisi Operasi Katarak untuk Kualitas Penglihatan Pasien

Perkembangan teknologi kesehatan mata telah membawa operasi katarak ke tingkat presisi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Jika di masa lalu prosedur ini hanya dimaknai sebagai tindakan mengangkat lensa mata yang keruh, kini operasi tersebut bertransformasi menjadi bagian dari perencanaan kualitas penglihatan yang lebih menyeluruh dan personal.

Salah satu inovasi yang menjadi andalan dalam operasi katarak modern adalah teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Dokter Spesialis Mata JEC, dr. Nina Asrini Noor, Sp.M., menjelaskan bahwa metode ini menawarkan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan teknik manual. "Bagi kami, pilihan utama sebenarnya adalah dengan laser assisted karena presisinya tinggi," ujarnya dalam acara Smart Business Lunch 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Menurut dr. Nina, teknologi laser memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan akurasi yang lebih baik berkat bantuan sistem pencitraan optik dan komputer. Teknologi ini berperan dalam sejumlah tahapan krusial operasi katarak, mulai dari pembuatan sayatan pada kornea, pembukaan kapsul lensa, hingga pemecahan lensa keruh sebelum diganti dengan lensa tanam atau intraocular lens (IOL). "Presisi inilah yang menjadi salah satu nilai penting FLACS, terutama ketika operasi katarak tidak hanya bertujuan menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga mengoptimalkan penglihatan setelah tindakan," kata Kepala Divisi Riset dan Pelatihan Medis JEC Group itu.

Perkembangan teknologi juga memungkinkan dokter menyesuaikan tindakan berdasarkan kondisi mata dan kebutuhan visual masing-masing pasien. Oleh karena itu, pemilihan lensa tanam tidak bisa disamaratakan. "Lensa itu tidak berarti one for everyone. Jadi benar-benar harus dicocokkan dengan kondisi mata masing-masing," tegas dr. Nina.

Ia menambahkan, kebutuhan penglihatan setiap orang kini semakin beragam. Pasien yang aktif bekerja di depan laptop, sering menggunakan gawai, atau banyak berkendara tentu membutuhkan kualitas penglihatan yang berbeda. Karena itu, konsultasi dan pemeriksaan mata menyeluruh menjadi langkah penting sebelum operasi dilakukan. Melalui pemeriksaan diagnostik modern, dokter dapat menentukan jenis lensa dan metode operasi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.

Seiring kemajuan teknologi, pilihan lensa tanam di rumah sakit mata juga semakin bervariasi. Salah satunya adalah lensa monofokal yang membantu penglihatan pada satu titik fokus, biasanya jarak jauh. Meski demikian, pasien tetap mungkin membutuhkan kacamata untuk membaca atau melihat dekat. Sementara itu, tersedia pula lensa multifokal yang dirancang untuk membantu penglihatan jarak jauh, menengah, hingga dekat, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata dalam aktivitas sehari-hari.

Ada juga lensa Extended Depth of Focus (EDOF) yang memperluas rentang fokus penglihatan, terutama untuk aktivitas modern seperti bekerja dengan layar komputer atau melihat dashboard kendaraan. Di sisi lain, bagi pasien dengan mata silinder atau astigmatisme, tersedia lensa toric yang dapat mengoreksi silinder bersamaan dengan operasi katarak.

Dokter Nina menilai, kemajuan teknologi medis dalam satu dekade terakhir telah membuka peluang baru bagi pasien katarak untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih baik dan sesuai dengan gaya hidup mereka. "Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya," tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan teknologi laser membantu mengurangi energi tindakan pada mata, sehingga prosedur menjadi lebih nyaman dan minim risiko dibandingkan operasi manual. "Kalau dengan yang manual, risikonya jauh lebih besar. Luka lebih besar, ada jahitan, jahitan bisa lepas, dan sebagainya," jelasnya.

Karena itu, dr. Nina berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan mata sejak dini agar katarak bisa ditangani lebih cepat sebelum kondisinya semakin berat. "Kami harapkan awareness lebih baik, sehingga pemeriksaan lebih dini, kalau diperlukan intervensi ya intervensi lebih dini," pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar