Logikanya begini. Ejakulasi rutin membantu mengeluarkan cairan semen yang diproduksi tubuh. Kalau ditahan terlalu lama, cairan ini bisa menumpuk di sistem reproduksi, tepatnya di epididimis saluran penyimpan sperma dekat testis. Penumpukan inilah yang berpotensi mengganggu kualitas sperma dan berdampak pada kesehatan prostat.
“Jadi karena kelamaan nggak dikeluarin, dia membantu di epididymis, di tampungan testis ya, jadi yang ganggu. Kedua, bisa mengurangi faktor resiko CA prostat itu betul. Dan itu ada paper-nya,” katanya menegaskan.
Temuan serupa pernah dipublikasikan di jurnal ilmiah Translational Andrology and Urology Volume 15 Nomor 2, Februari 2026 lalu. Riset itu menyebut, pria yang tidak ejakulasi lebih dari empat hingga tujuh hari cenderung mengalami penumpukan semen. Akibatnya? Motilitas atau kemampuan gerak sperma bisa menurun. Risiko kerusakan DNA pada sperma juga meningkat. Jumlahnya mungkin terlihat banyak, tapi kualitasnya justru anjlok.
Di sisi lain, masa pantang yang lebih pendek justru bisa menjaga kualitas sperma tetap baik. Ini bahkan sering jadi anjuran untuk pria yang sedang menjalani program kehamilan.
Laporan lain dari National Library of Medicine juga mendukung. Pria yang rutin ejakulasi disebut punya kemungkinan lebih kecil kena kanker prostat. Intinya, menjaga frekuensi dalam batas wajar memberi manfaat nyata.
Tapi dr. Tirta kembali mengingatkan. Jangan serap informasi ini secara berlebihan. Penelitian harus dipahami dengan bijak, bukan jadi alasan untuk berlebihan. Frekuensi yang dianjurkan punya intervalnya sendiri, bukan berarti bisa dilakukan terus-menerus tanpa jeda. Kesehatan itu soal keseimbangan, bukan ekstremitas.
Artikel Terkait
Batas Akhir Puasa Syawal 2026: 17 atau 18 April Bergantung Penetapan Awal Bulan
dr. Tirta Tegaskan Ejakulasi Rutin Bermanfaat, Tapi Bukan Berarti Setiap Saat
Cicilan Rumah Rachel Vennya dan Niko Al Hakim Tembus Rp52 Juta per Bulan
Pakar Sarankan Cara Alami Reset Tubuh Usai Liburan