Rabu kemarin, harga minyak sawit mentah alias CPO kembali menunjukkan taringnya. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak untuk pengiriman Mei naik 1,33 persen, menembus 4.487 ringgit Malaysia per ton. Padahal, di sesi pagi harganya sempat terpuruk di angka 4.395 ringgit. Penguatan ini tak lepas dari dua faktor utama: ringgit yang melemah dan sentimen positif dari pasar minyak kedelai di Chicago.
Seorang analis di Singapura yang dikutip Reuters bilang, kondisi itu memang mendorong kontrak berjangka sawit. "Kontrak berjangka minyak sawit diperdagangkan lebih kuat, terutama ditopang pelemahan ringgit serta efek rambatan dari penguatan kompleks minyak nabati yang lebih luas, mengikuti kenaikan soyoil Chicago selama jam perdagangan Asia," ujarnya.
Tapi jangan salah, dia juga mengingatkan bahwa rally ini masih punya batas. Momentum kenaikan, katanya, masih terbebani oleh persoalan pasokan global yang belum juga reda.
Memang, sentimen dari minyak nabati lain cukup kuat. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai melonjak 2,04 persen. Sementara di Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif cuma naik tipis 0,02 persen, setelah sebelumnya sempat merah. Kontrak minyak sawit di bursa yang sama pun ikut merangkak naik 0,38 persen. Ini wajar saja. Dalam persaingan ketat pasar minyak nabati global, pergerakan harga sawit kerap mengikuti tren pesaing utamanya.
Artikel Terkait
IHSG Turun 0,69%, Saham UANG dan NETV Melonjak di Atas 24%
IHSG Ditutup Melemah 0,69% di Tengah Aksi Ambil Untung Luas
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi BEI Rp25.000 Triliun pada 2031
Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Akhiri Program Buyback Saham Lebih Cepat