Dari Kas Masjid hingga Raksasa Keuangan: Kisah Unik Kelahiran BRI

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 06:20 WIB
Dari Kas Masjid hingga Raksasa Keuangan: Kisah Unik Kelahiran BRI

Kalau kita telusuri sejarahnya, Bank Rakyat Indonesia atau BRI punya cerita yang cukup unik. Lahir bukan dari ruang rapat mewah, melainkan dari sebuah kebutuhan yang sangat manusiawi: tolong-menolong. Misi awalnya sederhana, menjadi bank untuk rakyat. Itu sudah tertanam sejak awal.

Semuanya berawal di Purwokerto, tepatnya pada 16 Desember 1895. Sosok di baliknya adalah seorang Patih bernama Raden Aria Wirjaatmadja. Beliau ini dikenal baik hati. Konon, sebelum lembaga resmi berdiri, beliau sudah sering membantu orang-orang dengan dananya sendiri. Kabar tentang uluran tangannya itu menyebar cepat, bikin banyak orang akhirnya datang meminta bantuan.

Namun begitu, permintaan yang terus mengalir deras akhirnya bikin dana pribadi Raden Aria Wirjaatmadja tak lagi mencukupi. Situasi ini mendorongnya untuk berdiskusi dengan beberapa orang kepercayaannya, seperti Atma Sapradja, Atma Soeberata, dan Djaja Soemitra. Mereka perlu mencari solusi.

Dari situ, muncul sebuah ide yang cukup berani: memanfaatkan kas Masjid Purwokerto. Gagasan ini ternyata mendapat dukungan. Kiai Mohammad Redja Soepena selaku Penghulu masjid setuju, dan Asisten Residen E. Sieburgh pun memberikan lampu hijau. Mereka melihat tujuannya mulia dan yakin dana itu akan kembali.

Sieburgh bahkan menyarankan agar dibentuk komisi pengelola khusus yang dipimpin langsung oleh Raden Aria Wirjaatmadja. Sayangnya, antusiasme ini harus terpental oleh aturan pemerintah Hindia Belanda yang melarang penggunaan dana masjid untuk hal di luar ibadah.

Meski rencana awal terhambat, semangatnya tidak padam. Menurut sejumlah catatan, proses utang-piutang yang sudah berjalan ternyata tetap berlanjut. Para debitur tetap mengembalikan pinjamannya dengan tertib. Kepercayaan publik ternyata tidak goyah.

Perkembangan positif ini menarik perhatian para priyayi Eropa di Purwokerto yang menganut politik etis. Mereka lalu memberikan dukungan penuh untuk meresmikan usaha peminjaman uang tersebut. Dukungan ini sekaligus jadi penanda bahwa lembaga yang awalnya bernama Hulp en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren itu dinilai prospektif. Bahkan layak dijadikan sarana investasi.

Nama lembaga ini sendiri berubah-ubah seiring waktu. Dari Volksbank, lalu jadi Algemene Volkscredietbank (AVB) di tahun 1934. Saat Jepang berkuasa, namanya berganti jadi Syomin Ginko. Baru pasca kemerdekaan, perannya benar-benar ditegaskan. Undang-Undang No. 21 Tahun 1968 menetapkan BRI sebagai bank umum, sekaligus agen pembangunan.

Kini, setelah lebih dari seabad, transformasinya luar biasa. BRI tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan fokus kuat di sektor UMKM. Melalui holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM, jangkauannya masif: 34,5 juta debitur aktif dan 185 juta rekening simpanan mikro. Dengan basis nasabah lebih dari 160 juta, peran BRI dalam mendukung program pemerintah jelas tak bisa dipandang sebelah mata.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar