Sutradara Upie Guava mengakui, tantangan terbesarnya justru ada di awal. Tim produksi harus benar-benar memulai dari nol. Mereka bukan cuma bikin film, tapi lebih dulu membangun infrastruktur teknologinya.
Ujar Upie dalam Gala Premiere film tersebut di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Dia melanjutkan,
Persoalannya, menurut Upie, tidak ada sekolah formal yang mengajarkan teknologi spesifik seperti ini. Alhasil, tim terpaksa mencari ilmu sendiri.
Mayoritas dari mereka, sekitar 99 persen, belajar secara otodidak. Sumbernya? YouTube dan diskusi dengan praktisi serupa di luar negeri. Bayangkan, sebuah produksi film besar justru digerakkan oleh semangat belajar mandiri dari internet. Ini menunjukkan betapa timnya punya tekad yang luar biasa.
Jadi, setelah melalui proses panjang yang penuh lika-liku, "Pelangi di Mars" akhirnya tiba juga. Film ini bukan sekadar karya fiksi, tapi juga bukti nyata perjuangan sebuah tim yang berani keluar dari zona nyaman dan menaklukkan teknologi baru.
Artikel Terkait
Pelangi di Mars, Film Fiksi Ilmiah Indonesia untuk Anak, Tayang Lebaran 2026
CAPD, Terapi Gagal Ginjal yang Lebih Fleksibel, Masih Minim Dikenal Pasien
LPDP Sesuaikan Besaran Tunjangan Hidup dengan Biaya Hidup Negara Tujuan
Atta Halilintar Ungkap Derita Eksim yang Membuatnya Takut Sinar Matahari