"Ketika harga turun, orang malah ragu dan FOBO. Bingung mikir, Jual enggak ya? Ini harga entar naik lagi enggak ya?"
Dia pun kasih analogi yang gampang dicerna. Coba lihat nilai emas dalam rentang puluhan tahun.
“Ingat bahwa emas 1 kilogram berpuluh tahun yang lalu, nilainya itu setara dengan motor Honda Astrea. Tapi dengan emas yang sama, beratnya tetap 1 kilogram, sekarang nilainya bisa untuk membeli mobil,"
paparnya.
Dulu, sekitar dua dekade silam, harga emas per gram cuma sekitar Rp90 ribu. Sekarang? Melambung tinggi. Emas terbukti jadi instrumen yang tangguh untuk melawan inflasi dalam jangka panjang. Tapi, ingat pesannya: emas bukan untuk trading harian yang dikejar-kejar fluktuasi kecil.
"Memang benar tidak ada harga yang naik terus-menerus tanpa adanya fluktuasi naik-turun. Namun, jika ditarik dalam garis waktu yang panjang, tren harga emas selalu menunjukkan grafik yang menanjak. Jadi, emas itu jangan dilihat sebagai trading harian. Lihatlah tren jangka panjangnya,”
tutup Yos.
Jadi, gimana? Emas bukan cuma warisan yang diam di lemari. Dia bisa jadi teman investasi yang cerdas buat generasi sekarang, asal paham caranya.
Artikel Terkait
Doa Hari ke-16 Ramadhan: Mohon Pergaulan Baik dan Jauh dari Teman Buruk
YouTuber Bigmo Ditahan sebagai Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha
Isyana Sarasvati Bantah Tuduhan Sekte Satanik Lewat Unggahan Media Sosial
Isyana Sarasvati Dituding Ikut Sekte Satanik Usai Tampilkan Visual Mata Satu