"Dari data yang kami punya sekarang di negara kita tersedia hanya sekitar 2.400 layar. Idealnya jika dibandingkan dari India, China maupun USA, harusnya Indonesia itu mempunyai 20.000 layar. Yang menjadi target setengahnya let's say 10.000 layar," jelasnya.
Persoalannya tak cuma jumlah. Penyebarannya pun timpang. Ifan menyebut, hanya 25-30 persen kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki bioskop. Sebagian besar wilayah justru tak tersentuh. "Jadi memang penyebarannya sangat tidak rata," tuturnya.
Maka, Sinewara diharapkan bisa jadi pilot project. Proyek percontohan bioskop milik negara ini diharap bisa memicu daerah-daerah lain untuk ikut mengembangkan bisnis serupa. Jika berhasil, bukan mustahil akan ada lebih banyak layar di berbagai penjuru.
"Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi salah satu shareholder," beber Ifan.
Di sisi lain, Ifan juga menyoroti soal ketahanan film lokal di bioskop. Saat ini, film Indonesia umumnya hanya tayang setiap hari Kamis. Daya tahannya pun sangat bergantung pada okupansi penonton. Ini jadi polemik yang tak kunjung usai.
Karena itu, ia mendorong adanya kajian lebih mendalam. Misalnya, menambah hari tayang khusus untuk film lokal dan mengkaji ulang sistem ketahanan film di layar bioskop. "Tapi kami ingin mengusulkan kajian yang lebih mendalam bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal," pungkasnya.
Artikel Terkait
Biji Labu, Sumber Zinc untuk Kesehatan Prostat dan Vitalitas Pria
Dua Rukun Pokok yang Menentukan Keabsahan Puasa Ramadhan
Shopee Big Ramadan Sale 2026 Hadirkan Promo Spesial, Dukung Gaya Busana Praktis ala Content Creator
VISION+ Hadirkan Microdrama Ketika Cinta Dilarang, Kisah Cinta Berbahaya di Tengah Konflik Konglomerat