Ia menambahkan, ketika ibu didampingi dengan benar, kepercayaan dirinya akan tumbuh. Proses menyusui pun jadi lebih optimal. Peran konselor, kata dia, adalah sebagai pendamping medis sekaligus pendukung emosional.
Di sisi lain, kalau kita lihat lebih luas, persoalan menyusui ini sebenarnya sistemik. Bukan cuma urusan individu ibu semata. Itulah mengapa intervensi profesional sangat dibutuhkan. Pendampingan yang tepat terbukti bisa mencegah masalah sejak dini dan menekan angka pemberian ASI yang terhenti sebelum waktunya.
Dampaknya pun luas. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, keberhasilan menyusui adalah investasi. Bayi yang mendapat ASI punya risiko infeksi lebih rendah, status gizinya lebih baik, dan ini berkontribusi langsung pada pencegahan stunting. Tak kalah penting, dukungan yang memadai juga berpengaruh besar pada kesehatan mental sang ibu. Mereka jadi nggak merasa sendirian.
Jadi, memperkuat peran konselor laktasi bukanlah langkah tambahan semata. Ini adalah kebutuhan mendesak. Integrasi layanan konseling laktasi ke dalam sistem pelayanan kesehatan harus terus digalakkan. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem dan budaya menyusui yang sehat, berkelanjutan, dan penuh dukungan. Untuk masa depan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, langkah ini tidak bisa kita abaikan.
Artikel Terkait
Sambut Imlek 2026 dengan Lima Ide Seru Penuh Makna
Menghadapi Badai Emosi Balita: Kisah Nyata Para Ibu Lewati Fase Terrible Two
Sakit Tenggorokan Anaknya Tampak Biasa, Ternyata Bakteri Ini Ancam Jantung
Malam Pengampunan: Doa dan Amalan Istimewa di Nisfu Syaban 2026