Padahal, esensi pendidikan jauh lebih dalam dari sekadar karier. Ia membentuk cara berpikir kritis, menumbuhkan empati, dan melatih pengambilan keputusan. Hak untuk mengenyam pendidikan tinggi itu universal, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dan seorang perempuan berpendidikan yang memilih mengelola rumah tangga sama sekali bukan berarti berhenti menggunakan otaknya. Justru sebaliknya. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya, dia bisa menjalankan peran itu dengan lebih baik, lebih kreatif, dan lebih bijaksana.
Ada ungkapan bijak yang mengatakan, "Al-Ummu Madrasatul Ula".
Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Ini menegaskan betapa besarnya dampak peran seorang ibu dalam membentuk karakter dan nilai generasi penerus. Bukankah itu investasi yang luar biasa?
Pada akhirnya, stigma ini bukan cuma soal pilihan hidup individu. Ini lebih tentang cara kita sebagai masyarakat memaknai nilai, kesuksesan, dan kontribusi. Selama ukuran sukses hanya materi dan ekonomi, selama itu pula kerja-kerja domestik akan dipandang sebelah mata. Mungkin, sudah waktunya kita berhenti mempertanyakan pilihan perempuan. Dan mulai mengkritisi standar sosial yang selama ini kita anggap mutlak benar.
Artikel Terkait
Hotel di Rest Area Trans Jawa Siap Layani Pemudik yang Butuh Istirahat
Warga Aceh Tamiang Jaga Imunitas di Ramadhan Pascabencana
Ahli Sarankan Endoskopi untuk Diagnosis GERD yang Tak Kunjung Reda
Epidemiolog Ingatkan Risiko Ciuman Bayi Saat Lebaran