"Percuma kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga." Kalimat itu masih sering terlontar, kan? Dianggap candaan, atau nasihat yang wajar. Yang bikin miris, seringkali justru datang dari orang terdekat. Teman, keluarga, bahkan sesama perempuan.
Memang, tuntutan untuk mengejar pendidikan tinggi itu nyata. Semakin tinggi gelar, semakin luas wawasan dan relasi. Potensi dan keterampilan pun diasah untuk masa depan. Tapi, ada yang aneh. Pendidikan tinggi seolah cuma dianggap berhasil jika berbuah pekerjaan mentereng dengan gaji fantastis. Titik.
Nah, coba bandingkan. Kapan terakhir Anda mendengar seorang lelaki ditegur, "Percuma kuliah tinggi kalau cuma jadi kepala rumah tangga"? Jarang sekali. Tampaknya, beban untuk 'membuktikan' gelar itu lebih berat di pundak perempuan. 'Menguntungkan' selalu diterjemahkan secara sempit: harus menghasilkan uang. Karena itulah, peran ibu rumah tangga kerap dianggap tak bernilai.
Padahal, coba pikirkan. Meski tak ada slip gaji, tunjangan, atau bonus, kerja mereka justru fondasi dari banyak hal. Tanpa ada yang mengurus anak, mengatur rumah, dan memastikan segala kebutuhan keluarga terpenuhi, bisakah orang-orang di sektor formal bekerja dengan tenang? Ironinya, masyarakat mengharapkan perempuan melakukan semua itu, tapi giliran mereka memilih fokus pada peran itu setelah lulus kuliah justru dituduh menyia-nyiakan ijazah.
Menurut sejumlah saksi, tekanan sosial ini sangat terasa di acara keluarga atau reuni. Pertanyaan "Kerja di mana sekarang?" bisa terasa seperti interogasi bagi ibu rumah tangga.
Artikel Terkait
Massimo Freddo: Kolaborasi Kopi, Scarf, dan Harapan untuk Petani Sumatra
Lilla: Platform yang Bantu Ibu Masa Kini Temukan Kejelasan di Tengah Banjir Informasi
Emma Stone Pecahkan Rekor Meryl Streep, Jadi Perempuan Termuda dengan Tujuh Nominasi Oscar
Hasbi Dikurung, Meisya Menyamar: Intrik Baru di Cinta Sepenuh Jiwa Malam Ini