Percuma Kuliah Tinggi? Stigma yang Menyudutkan Ibu Rumah Tangga

- Jumat, 30 Januari 2026 | 01:36 WIB
Percuma Kuliah Tinggi? Stigma yang Menyudutkan Ibu Rumah Tangga

"Percuma kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga." Kalimat itu masih sering terlontar, kan? Dianggap candaan, atau nasihat yang wajar. Yang bikin miris, seringkali justru datang dari orang terdekat. Teman, keluarga, bahkan sesama perempuan.

Memang, tuntutan untuk mengejar pendidikan tinggi itu nyata. Semakin tinggi gelar, semakin luas wawasan dan relasi. Potensi dan keterampilan pun diasah untuk masa depan. Tapi, ada yang aneh. Pendidikan tinggi seolah cuma dianggap berhasil jika berbuah pekerjaan mentereng dengan gaji fantastis. Titik.

Nah, coba bandingkan. Kapan terakhir Anda mendengar seorang lelaki ditegur, "Percuma kuliah tinggi kalau cuma jadi kepala rumah tangga"? Jarang sekali. Tampaknya, beban untuk 'membuktikan' gelar itu lebih berat di pundak perempuan. 'Menguntungkan' selalu diterjemahkan secara sempit: harus menghasilkan uang. Karena itulah, peran ibu rumah tangga kerap dianggap tak bernilai.

Padahal, coba pikirkan. Meski tak ada slip gaji, tunjangan, atau bonus, kerja mereka justru fondasi dari banyak hal. Tanpa ada yang mengurus anak, mengatur rumah, dan memastikan segala kebutuhan keluarga terpenuhi, bisakah orang-orang di sektor formal bekerja dengan tenang? Ironinya, masyarakat mengharapkan perempuan melakukan semua itu, tapi giliran mereka memilih fokus pada peran itu setelah lulus kuliah justru dituduh menyia-nyiakan ijazah.

Menurut sejumlah saksi, tekanan sosial ini sangat terasa di acara keluarga atau reuni. Pertanyaan "Kerja di mana sekarang?" bisa terasa seperti interogasi bagi ibu rumah tangga.

Padahal, esensi pendidikan jauh lebih dalam dari sekadar karier. Ia membentuk cara berpikir kritis, menumbuhkan empati, dan melatih pengambilan keputusan. Hak untuk mengenyam pendidikan tinggi itu universal, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dan seorang perempuan berpendidikan yang memilih mengelola rumah tangga sama sekali bukan berarti berhenti menggunakan otaknya. Justru sebaliknya. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya, dia bisa menjalankan peran itu dengan lebih baik, lebih kreatif, dan lebih bijaksana.

Ada ungkapan bijak yang mengatakan, "Al-Ummu Madrasatul Ula".

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Ini menegaskan betapa besarnya dampak peran seorang ibu dalam membentuk karakter dan nilai generasi penerus. Bukankah itu investasi yang luar biasa?

Pada akhirnya, stigma ini bukan cuma soal pilihan hidup individu. Ini lebih tentang cara kita sebagai masyarakat memaknai nilai, kesuksesan, dan kontribusi. Selama ukuran sukses hanya materi dan ekonomi, selama itu pula kerja-kerja domestik akan dipandang sebelah mata. Mungkin, sudah waktunya kita berhenti mempertanyakan pilihan perempuan. Dan mulai mengkritisi standar sosial yang selama ini kita anggap mutlak benar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar