Kabar duka datang dari dunia hiburan. Lula Lahfah, selebgram yang juga dikenal sebagai kekasih Reza "Arap" Oktovian, meninggal dunia Jumat (23/1) di apartemennya, Jakarta Selatan. Kepergiannya di usia 26 tahun tentu saja menyisakan luka yang dalam bagi keluarga, sahabat, dan tentu saja, para penggemar setianya.
Kondisi kesehatannya memang sempat menjadi perhatian di awal tahun 2026. Lewat akun TikTok pribadinya pada 1 Januari, Lula mengaku baru saja menjalani perawatan di rumah sakit.
“(Penyakit) borongan, Infeksi saluran kemih (ISK), usus bengkak dan radang, batu ginjal, serta GERD,”
begitu tulisnya merinci jawaban untuk warganet yang bertanya. Ungkapan itu kini terasa begitu menyayat.
Nama Lula sebenarnya bukan hal baru. Perempuan ini sudah berkecimpung cukup lama, mulai dari musik hingga akting. Tapi siapa sebenarnya sosok di balik nama panggung itu?
Lula di Mata Orang Terdekat: Baik Hati dan Perhatian
Bagi keluarganya, Lula adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang punya hati lembut. Ayahnya, Muhammad Feroz, menggambarkannya sebagai sosok yang peduli. "Dia anak yang baik, anak yang peduli sama keluarganya, sama orang tua. Kita juga lihat dia sama teman-temannya juga baik. Sama teman-temannya dekat," kenangnya.
Momen makan bersama keluarga tanpa alasan khusus, tak lama sebelum ia wafat, kini dipahami sebagai sebuah perpisahan yang tak terucapkan. Sang ayah tak pernah menduganya.
Pandangan serupa datang dari Dara Arafah, sahabat dekat Lula. Di Instagram-nya, Dara menuliskan duka. “Lula anak baik, banyak orang yang sudah Lula bantu, kita semua kehilangan Lula,” tulisnya di hari yang sama.
Aurelie Moeremans, penulis buku Broken Strings, juga punya kesan mendalam. Mereka saling follow di media sosial sejak 2019. Setiap kali bertemu, Aurelie bilang Lula selalu tampak ceria dan hangat. Sosoknya mudah didekati.
Artikel Terkait
Hujan Imlek: Mitos Keberuntungan atau Kebetulan Alam Semata?
Riset Ungkap Alasan di Balik Dorongan Belanja Saat Menjelang Haid
Waspada Bocor! Ini Cara Ampuh Lindungi Atap Rumah Saat Hujan Tiba
Ironi Negeri Subur: Konsumsi Buah dan Sayur Orang Indonesia Mandek Sejak 2007