Bulan Ramadan selalu datang dengan segudang harapan. Kita ingin ibadah lebih khusyuk, hidup lebih tertib, dan tubuh pun diharapkan bisa mengikuti ritme baru dengan mulus. Tapi kenyataannya? Hari-hari pertama puasa justru kerap dihantui rasa tak nyaman. Perih di lambung, kepala pening, tenggorokan serasa kering, dan badan lemas seolah jadi menu wajib.
Banyak yang bilang, ah itu hal biasa. Cuma tanda tubuh sedang menyesuaikan diri. Namun jika diperhatikan, keluhan-keluhan itu datang berulang setiap tahun. Polanya nyaris sama. Artinya, ada mekanisme tubuh yang konsisten bereaksi saat ritme hidup kita berubah secara tiba-tiba.
Bayangkan saja: jam makan, tidur, dan minum semuanya berubah sekaligus. Tubuh kita dipaksa beradaptasi dalam tempo singkat. Di fase inilah dampaknya mulai terasa, terutama bagi perempuan yang secara alami lebih peka terhadap perubahan fisik dan hormonal.
Lonjakan Keluhan di Awal Puasa: Data yang Bicara
Fenomena ini ternyata punya bukti datanya. Indonesia Health Insights Report Edisi Q1 2026 dari Halodoc mencatat dengan jelas bahwa minggu pertama Ramadan adalah periode adaptasi yang paling berat. Jumlah konsultasi kesehatan melonjak dibandingkan hari-hari biasa.
Gangguan pencernaan seperti maag dan GERD menduduki puncak daftar keluhan. Yang menarik, lonjakan konsultasi tertinggi justru terjadi di dini hari, bertepatan dengan waktu sahur. Saat itulah lambung seolah protes karena dipaksa bekerja di jam yang tak biasa.
Pola ini konsisten terlihat dalam dua tahun berturut-turut. Jadi, keluhan di awal puasa bukanlah kebetulan. Itu adalah respons tubuh yang bisa diprediksi, sebuah alarm alami saat kita mengubah gaya hidup secara drastis.
Artikel Terkait
Ayah Lula Lahfah Ungkap Kabar Duka dari Asisten, Bukan dari Putrinya Sendiri
IHDC Soroti Pendidikan Sehat sebagai Fondasi Sistem Kesehatan Nasional
Masa Muda Elle Woods Terungkap, Serial Elle Tayang 2026
Sarapan Anak: Dokter Ungkap 8 Menu yang Tepat dan yang Harus Dihindari