Kehilangan Ayah yang Tak Terlihat: Ketika Sosok Ayah Ada, Tapi Tak Hadir

- Selasa, 20 Januari 2026 | 08:06 WIB
Kehilangan Ayah yang Tak Terlihat: Ketika Sosok Ayah Ada, Tapi Tak Hadir

Ini poin krusial: ayah adalah figur lelaki pertama dalam hidup seorang anak perempuan. Cara ayah memperlakukannya dengan empati atau tekanan, dengan kehangatan atau jarak akan membentuk standar bawah sadarnya saat dia menjalin hubungan dengan lawan jenis kelak.

Anak perempuan yang mendapat validasi emosional cenderung lebih kebal. Dia tak mudah dimanipulasi, berani menolak, dan bisa mengenali hubungan yang sehat. Dia tak menggantungkan harga dirinya pada pengakuan orang lain.

Di sisi lain, kekosongan emosional dari ayah membuat anak perempuan rentan. Rentan terhadap hubungan yang manipulatif, eksploitasi, bahkan hal-hal yang lebih berbahaya. Saat kebutuhan akan cinta dan pengakuan tak terpenuhi di rumah, dia akan mencarinya di luar seringkali tanpa bekal yang memadai. Jadi, validasi dari ayah sebenarnya adalah bentuk perlindungan paling awal.

Belajar dari Teladan Sejarah

Ini bukan fenomena baru atau impor dari budaya Barat. Sejarah kita justru punya contoh bagus. Ambil contoh Raden Ajeng Rasuna Said. Dia tumbuh dalam keluarga di mana ayahnya tak cuma mencari nafkah, tapi juga memberi ruang besar untuk pendidikan dan keberanian berpikir. Ayahnya punya peran langsung dalam membentuk Rasuna jadi perempuan yang kritis dan teguh pendirian.

Dalam banyak tradisi Nusantara, terutama di kalangan ulama dan pendidik, ayah terlibat aktif dalam mendidik anak perempuannya. Mereka diajak berdialog, didorong belajar. Perempuan-perempuan terdidik dari lingkungan seperti inilah yang kelak menjadi ibu bagi generasi yang kuat dan beradab. Jadi, ketika ayah hadir secara utuh, peradaban bisa tumbuh.

Lalu, Mulai dari Mana?

Menghadirkan ayah secara utuh itu tak perlu hal-hal besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana. Meluangkan waktu untuk benar-benar mendengar. Memuji usahanya, bukan cuma hasilnya. Berani bilang "sayang" secara langsung. Menciptakan ruang obrolan yang aman, tanpa penghakiman.

Buat para lelaki yang belum jadi ayah, kesadaran ini penting jadi bekal. Peran ayah itu tak dimulai saat anak lahir, tapi saat seorang lelaki paham bahwa memimpin keluarga mencakup tanggung jawab atas perasaan, bukan cuma urusan dompet.

Dan untuk ayah yang sudah punya anak perempuan, tak ada kata terlambat untuk belajar. Anak perempuan tak butuh ayah yang sempurna. Mereka cuma butuh ayah yang hadir. Ayah yang mau belajar mendengar, mengakui, dan menyayangi tanpa syarat.

Percayalah, di balik pengakuan sederhana dari seorang ayah, tersimpan masa depan seorang anak perempuan. Dan masa depan seorang anak perempuan, pada akhirnya, adalah tentang arah peradaban kita semua.


Halaman:

Komentar