Pemeriksaan tentu tak cuma berhenti di situ. Evaluasi menyeluruh terhadap organ reproduksi pria juga perlu. Salah satu poin krusial yang kerap diabaikan adalah ukuran testis.
Testis yang kecil bisa jadi penanda ada yang tak beres dengan fungsi reproduksi, baik itu produksi sperma maupun hormon. "Salah satu yang perlu diperiksa tentu kemudian hormon. Sebelumnya ukuran testisnya normal nggak dia? Jadi kalau ukurannya kecil ya kemungkinan besar nggak normal," imbuh Prof. Wimpie.
Namun begitu, ada kabar yang kurang baik. Jika testis sudah terlanjur mengecil dan terlambat ditangani, fungsi reproduksinya sulit dipulihkan. Berbeda dengan masalah pada perkembangan penis, yang menurut beliau masih bisa diatasi dengan terapi medis.
Ukuran penis masih mungkin diperbaiki, dan pria tetap bisa berhubungan seksual. Hanya saja, jangan berharap kesuburan akan otomatis kembali.
"Tapi kalau sudah terlambat mengecil (testis), ya nggak bisa lagi. Sudah mengecil ya mandul dia. Tapi kalau untuk perkembangan penisnya yang terganggu masih bisa diperbesar. Juga bisa melakukan hubungan seks walaupun pengobatannya seumur hidup, tapi tetap mandul," sambungnya.
Intinya, deteksi dini adalah kunci. Prof. Wimpie menekankan betapa pentingnya kesadaran pria untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya. Dengan pemeriksaan tepat waktu dan penanganan sejak awal, setidaknya pasangan punya peluang lebih besar untuk memahami kondisinya. Dari situ, mereka bisa merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih matang dan bijaksana.
Artikel Terkait
GTV Big Movies Sajikan Maraton Horor dan Laga, dari Lebah Pembunuh hingga Ular Raksasa
Jalan Damai Inara Rusli Ditolak, Kasus Pidananya Terus Berlanjut
Sindrom Stockholm: Mengapa Korban Justru Bersimpati pada Penculiknya?
Kolaborasi Pertamina dan RSUD Muda Sedia: Menjaga Denyut Nadi Rumah Sakit Pascabencana