Malam Tahun Baru Berdarah: Peluru Nyasar Lukai Mata Balita di Medan

- Kamis, 08 Januari 2026 | 11:00 WIB
Malam Tahun Baru Berdarah: Peluru Nyasar Lukai Mata Balita di Medan

Balita Tertembak Peluru Nyasar di Medan, Kondisinya Kini Mengkhawatirkan

Suasana malam tahun baru di Belawan, Medan, Senin (5/1) lalu, berubah jadi mimpi buruk bagi seorang ibu. Bukan kembang api yang melintas, melainkan peluru nyasar yang melukai anaknya. Korban adalah Asmi Anggraini, baru empat tahun usianya.

Ibunya, Romanda Siregar, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Malam itu, sekitar pukul setengah delapan, mereka berangkat naik bentor. Tujuannya sederhana: menjemput sang ayah yang bekerja sebagai nelayan, sekalian silaturahmi ke rumah teman.

“Awalnya kami mau keluar rumah pergi menjemput bapaknya menaiki becak motor, tahu-tahu ada perang. Jadi, kami menunggu la di simpang Canang,” kenang Romanda.

Di depan Kantor Pos Belawan, jalanan macet. Tawuran antar kelompok membuat mereka terpaksa berhenti. Mereka memilih menunggu di dalam becak motor, berharap keributan cepat selesai. Tapi bahaya datang dari arah yang tak terduga.

Tiba-tiba, Asmi merengek. Tangannya memegangi mata kanan. Romanda kaget melihat darah sudah mengucur deras, membasahi baju kecil putrinya. Panik, ia langsung memeluk Asmi erat-erat dan meminta supir bentor buru-buru mencari pertolongan.

RS Prima Husada Cipta jadi tujuan pertama. Sayangnya, akses ke sana ditutup gara-gara tawuran masih berlangsung. Mereka pun putar haluan ke sebuah klinik terdekat. Nasib sial terus beruntun. Petugas di klinik itu hanya geleng-geleng. Luka di area mata, kata mereka, di luar kemampuan klinik.

“Karena klinik pun gak berani dan disarankan ke rumah sakit.”

Dengan harapan tipis, mereka coba lagi ke RS Prima Husada. Tapi kerusuhan di persimpangan belum reda. Tak ada pilihan lain. Romanda turun, menggendong Asmi yang terus menangis kesakitan, dan berjalan kaki menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, pukulan berikutnya datang: dokter spesialis mata sedang tidak bertugas.

Rujukan pun diberikan. Dengan bantuan warga yang menumpangkan mobilnya, akhirnya mereka tiba di RSUP Dr. Pirngadi. Di sinilah Asmi akhirnya mendapat pemeriksaan CT Scan.

Hasilnya mengerikan. Ada benda asing, diduga peluru dari senapan angin, yang masih bersarang di dalam rongga kepala anak itu, persis di area mata kanan.

“Bingung mau bagaimana ini. Anak gak rewel. Cuma kadang dia kedip darah mengucur, sakit,” ucap Romanda, suaranya penuh kelelahan dan kepasrahan.

Gibson Girsang, Humas RSUD Dr. Pirngadi, membenarkan temuan itu. “Hasil rontgen itu, bentuk peluru di rongga kepala. Dari dokter kami bilang, itu peluru saja dan masih bersarang di kepala,” jelasnya.

Namun begitu, operasi pengangkatan belum bisa dilakukan. Pirngadi tidak memiliki dokter spesialis mata. Koordinasi pun dilakukan dengan RS Universitas Sumatera Utara dan RSUP H. Adam Malik. Lagi-lagi jalan buntu. RS USU penuh, sementara di Adam Malik, dokternya tidak sedang bertugas. Asmi terjebak dalam antrian panjang nasib.

Saat ini, kondisi Asmi sungguh memilukan. Di ruang perawatan RS Pirngadi, bocah berkaos merah itu terbaring lemah. Mata kanannya dibalut perban putih. Wajahnya pucat. Sesekali dia meringis menahan nyeri, sementara selang infus tetap menancap di tangan kirinya yang mungil.

Di samping ranjang, Romanda dengan setia menjaga. Jaket jeans yang dikenaknya masih ada noda darah kering Asmi, sebuah tanda dari malam mengerikan yang tak akan mudah dilupakan. Perjuangan mereka untuk menyelamatkan mata dan mungkin lebih dari itu sebuah nyawa, masih sangat panjang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar