Dokter Tifa Bantah Tuduhan Pengecut, Sebut Hijrah untuk Perjuangan Baru

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 17:40 WIB
Dokter Tifa Bantah Tuduhan Pengecut, Sebut Hijrah untuk Perjuangan Baru

Dokter Tifa akhirnya angkat bicara setelah ramai disebut mundur dari perjuangan membongkar kejanggalan ijazah Presiden Joko Widodo. Ia menegaskan bahwa langkahnya itu bukan bentuk kemunduran, melainkan hijrah menuju perjuangan baru yang lebih luas.

Dalam pernyataannya, Dokter Tifa mengibaratkan hijrahnya seperti hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah 1.500 tahun lalu. Menurut dia, hijrah justru dilakukan untuk membangun kekuatan, menghimpun energi, dan mengonsolidasikan pemikiran, bukan untuk lari dari tanggung jawab.

“Apakah beliau mundur dari perjuangan menyebarluaskan Islam? TIDAK! Apakah lantas beliau pengecut? TIDAK SAMA SEKALI!” tegasnya.

Empat Tahun Meneliti Ijazah Jokowi

Dokter Tifa mengungkapkan bahwa ia telah meneliti ijazah Jokowi sejak 2022, jauh sebelum kasusnya viral. Penelitian itu memakan waktu empat tahun, hingga akhirnya rampung pada Agustus 2025 dan diterbitkan menjadi buku berjudul Jokowi's White Paper.

“Total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini,” ujarnya.

Ia juga mengaku mengeluarkan dana miliaran rupiah dari kantong pribadi untuk membiayai perjuangan hukumnya. Selama proses itu, ia berurusan dengan kepolisian mulai dari saksi, terlapor, tersangka, hingga terdakwa. Ia sempat ditahan dan menjalani empat kali sidang sebelum akhirnya status terdakwanya dinyatakan batal demi hukum pada 23 Juli 2026.

Menolak Tawaran Damai Rp50 Miliar

Dokter Tifa membantah isu bahwa ia diam-diam menemui Jokowi di Solo untuk berdamai. Ia menegaskan bahwa jika ingin berdamai, ia sudah lama menerima tawaran restorative justice yang disodorkan kepadanya.

“Tawaran restorative justice kepada saya lengkap dengan paket Rp50 M! Apakah saya ambil? TIDAK!” katanya.

Ia justru heran mengapa banyak pihak menudingnya pengecut atau pengkhianat. Menurut dia, tugasnya sebagai peneliti dan pejuang sudah selesai setelah eksepsinya diterima dan ia bebas. Hijrah, kata dia, adalah pilihan sadar untuk fokus pada masalah-masalah lain yang lebih mendesak, seperti ancaman kesehatan, teknologi vaksin, senjata biologis, gangguan mental massal, hingga masalah geopolitik dan kesejahteraan sosial.

Kembali Berjuang di Sidang Praperadilan

Meski sudah bebas, Dokter Tifa kembali menghadapi ancaman hukum. Status bebasnya yang baru tiga hari langsung dianulir dengan panggilan sidang baru. Ia pun mengajukan praperadilan dan dijadwalkan bersidang pada Rabu, 12 Agustus 2026.

“Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari praperadilan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Dokter Tifa menantang para pengkritiknya untuk ikut berjuang secara nyata, misalnya dengan membeli bukunya atau hadir mendampingi saat sidang, bukan sekadar berkomentar dari jauh.

“Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan,” sindirnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags