Prosesnya begitu cepat, hampir mustahil dicegah. Yang jelas, ini semua sangat disayangkan. Membuat film itu bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga, waktu, dan tentu saja, biaya yang tidak sedikit.
Celerina khawatir dampak jangka panjangnya akan serius. Industri film bisa mandek, bahkan merosot. Kalau uang tidak kembali ke produser, dari mana lagi dana untuk produksi film berkualitas di masa depan?
"Enggak gampang lho untuk bikin film, dan enggak murah. Kalau itu tidak kembali uangnya, kami tidak bisa berinvestasi lagi membuat film yang baik," ungkapnya tegas.
Di sisi lain, BFN sendiri tak tinggal diam. Mereka punya tim yang aktif mengirim permintaan penghapusan konten bajakan, misalnya ke YouTube. Namun, upaya itu seperti mengejar bayangan. Jumlah konten yang muncul jauh lebih banyak dan cepat ketimbang proses take down.
"Tapi kan nggak bisa setiap hari begitu, setiap saat,"
tandas Celerina. Harapannya sederhana: karya anak bangsa bisa terlindungi hak ciptanya, sehingga ekosistem perfilman tetap hidup dan terus berkembang.
Artikel Terkait
METOO Hadirkan Pasta Gigi dengan Perisai HAP untuk Atasi Gigi Sensitif dan Berlubang
Gunung dalam Mimpi: Simbol Hambatan atau Panggilan Jiwa?
Ketangguhan yang Keliru: Saat Perempuan Terlalu Terbiasa Menahan Sakit
Bahasa Bayi di Media Sosial: Manja atau Kode Kasih Sayang Generasi Muda?