Prosesnya begitu cepat, hampir mustahil dicegah. Yang jelas, ini semua sangat disayangkan. Membuat film itu bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga, waktu, dan tentu saja, biaya yang tidak sedikit.
Celerina khawatir dampak jangka panjangnya akan serius. Industri film bisa mandek, bahkan merosot. Kalau uang tidak kembali ke produser, dari mana lagi dana untuk produksi film berkualitas di masa depan?
"Enggak gampang lho untuk bikin film, dan enggak murah. Kalau itu tidak kembali uangnya, kami tidak bisa berinvestasi lagi membuat film yang baik," ungkapnya tegas.
Di sisi lain, BFN sendiri tak tinggal diam. Mereka punya tim yang aktif mengirim permintaan penghapusan konten bajakan, misalnya ke YouTube. Namun, upaya itu seperti mengejar bayangan. Jumlah konten yang muncul jauh lebih banyak dan cepat ketimbang proses take down.
"Tapi kan nggak bisa setiap hari begitu, setiap saat,"
tandas Celerina. Harapannya sederhana: karya anak bangsa bisa terlindungi hak ciptanya, sehingga ekosistem perfilman tetap hidup dan terus berkembang.
Artikel Terkait
Doa Hari ke-13 Ramadhan: Mohon Kesucian, Kesabaran, dan Pergaulan dengan Orang Saleh
Ibu Calon Mantu Pingsan Usai Tuding Tamu Undangan Sebagai Perusak Keluarga di Sinetron RCTI
Klub Harvard Indonesia Pecat Andhika Sudarman Terkait Tuduhan Pelecehan Seksual
Studi 43 Tahun: Minum Kopi 2-3 Cangkir Sehari Turunkan Risiko Demensia hingga 18%